Ass wr wb.,
Bukan maksud saya meminta Anda terbang sungguhan.
Suatu malam, saya tercenung melihat tema desktop baru yang ada di layar komputer. Mungkin baru diganti anak saya. Sebuah apel [?] lalu “muncrat” daripadanya kalimat2 berhikmah. Dan salah satu bunyinya begini [bahasa inggris nih]: “You can never know how high you can fly until you spread your wings and fly“
Saya termenung-menung, tidak tahu bagaimana Anda.?
Kita memang tidak pernah tahu seberapa tinggi kita dapat terbang sebelum benar-benar membuka sayap dan mencoba terbang. Yang sering terjadi adalah, boro2 terbang, membuka sayap pun kadang kita tak mau. Jangan2 sebenarnya kita bisa terbang mencapai bulan, tapi karena tak pernah mencoba ya… gitu deh. Muter-muter di sini saja, sementara orang lain benar-benar sudah terbang, dan kita “ngedumel” sambil menonton dari bawah. Mencari2 kambing hitam kenapa kita masih juga di sini.
Ada yang tanya: kalau jatuh bagaimana?
Ada yang mau membantu saya menjawabnya? Atau kasih komentar lain, Monggooo…
Wass wr wb.,





















17 Tanggapan
April 21, 2009 pukul 7:42 pm
Wah… kukira… abang yang ganti wallpapernya… ternyata si kakak to…. ck ck ck… hebat ya.. seleranya… menunjukkan makin matangnya jiwa.. (ha ha ha… muji nih… mentang-mentang anak sendiri) By the Way… Jazakallahu kh kn to always.. support our family..
April 27, 2009 pukul 2:23 pm
#adek,
alhamdulillah,
demikian pula doaku untuk setiap tetes keringat pengorbananmu. Semoga Allah SWT ganti dengan cahaya kemuliaan.
April 22, 2009 pukul 12:17 am
I believe I can fly ….
April 27, 2009 pukul 12:23 pm
#Rindu,
believing is the basic thing you must have, but it doesn’t stop there. Something will only happen ONLY when you start taking action. It’s what we call “sunnatullah” or the law of nature.
[he he, jadi ikutan bahasa Inggris, mudah2an gak salah tulis...;-)]
Jadi setelah punya keyakinan bisa, kapan #rindu mulai “mencoba terbang”. Nanti cerita ya, kalau sempat jatuh apa yang rindu lakukan atau alami [untuk menjawab pertanyaan saya/}
April 23, 2009 pukul 10:14 am
Ini sama dengan jargon, “gantunglah cita-citamu setinggi langit”. Kembali lagi ke motivasi, yg kadang kebablasan. “Yes We can” , “Dia Bisa, Saya Juga harus Bisa”. Kebablasan atau tidak tergantung pada karakter, habit, dan integritas yang sebenarnya sudah terlihat dari kita bertindak dan bekerja sehari-hari. Cara makan, apa yang kita makan, dan bagaimana cara kita mencapai sesuatu itu TERNYATA ( sudah dibuktikan secara ilmu fisiologi dan faal ) tergantung dari ajaran dari sejak bayi dan orang tua kita dan pengalaman kita terhadap konsep ” kebenaran”. Kadang kita melupakan dan menistakan “kebenaran” ini karena kita tidak berdaya, takut terhadap nasib kita, pekerjaan kita, uang kita, dll. Jadi Anda bisa terbang lebih tinggi, karena anda mau dengan niat dan tindakan yang benar ( “kebenaran”= hati nurani yang bersih ) sehingga anda dapat berani mengepakkan sayap. Tetapi tantangannya adalah “kebenaran” pada saat ini sangat susah dilaksanakan, bahkan untuk diri kita sendiri, untuk orang lainpun, kita tidak peduli. Jadi?
Semoga pemicu dari pak Diaz mengenai “terbang tinggi” ini lebih ke arah untuk mengenal diri kita sendiri yang harus diupayakan terus untuk berbuat “kebenaran”. Amin. Insya Allah
April 27, 2009 pukul 2:13 pm
# pak Agung yg budiman,
1. Motivasi yg terbaik memang adalah yang datang dari dalam diri kita sendiri, tapi untuk memicunya seringkali harus dirangsang dari luar agar motivasi diri sendiri itu akhirnya dapat muncul dan berkembang.
2. Memang benar, kebanyakan [kalau tidak semua] apa yang kita lakukan dalam mencapai atau menghadapi sesuatu “ternyata” tergantung dari bagaimana kesan yang dibentukkan oleh lingkungan dimana kita hidup sejak kecil. Kesan itu tertanam di bawah sadar kita sehingga hampir menjadi perilaku setiap kali kita menghadapi sesuatu, secara otomatis. Tapi pilihan akhir ada pada kita, bila kita akhirnya menyadari bahwa apa yang “dibentukkan” ke kita itu salah, kita masih dapat merubahnya dengan kemauan sendiri yang kuat, karena masing2 kita dibekali itu oleh Allah. Sudah banyak contoh orang2 sukses yang bisa bangkit dari keterpurukan.
3. Kebenaran memang harus diperjuangkan. Masing2 dari kita mendapat tanggung jawab sebagai pejuang kebenaran sesuai dengan porsi kita masing2. Karena untuk itulah kita ada.
Kata2 bijak yang saya kutip di atas sebenarnya lebih saya tujukan untuk mengajak kita merenung, kemudian bangkit dan berani melakukan sesuatu yang benar, apa pun itu bentuknya, berbuat kebaikan untuk sesama, meraih cita2 atau memperjuangkan “kebenaran” itu sendiri. Karena kenyataannya kebanyakan kita [termasuk saya sendiri
] belum dapat mewujudkan apa yang kita inginkan karena kita “takut” gagal, jadi kita sudah kalah bahkan sebelum kita benar2 maju bertempur.
Demikian tambahan dari saya. Sekali lagi, terima kasih atas bahasan bapak yang begitu “menyentuh”. Semoga kita semua senantiasa mendapat bimbingan Allah SWT untuk dapat mengenal diri sendiri dan diberikan hidayah, kemampuan dan kemauan untuk selalu menegakkan kebenaran. Amin
April 24, 2009 pukul 5:13 pm
seorang ulama pernah bilang..
“Tak kudapatkan cela yang paling besar dalam diri seseorang selain kemampuan untuk sempurna tapi dia tidak mau berjuang meraihnya.”
nyambung ga ya ma judul postingan ini!?hee…
April 27, 2009 pukul 2:16 pm
#mas Irfan, kayaknya nyambung banget deh. Trims ya sudah kasih komen.
April 24, 2009 pukul 11:38 pm
Kalau ada sayap berarti diri kita memang disiapkan untuk terbang, karena itu gunanya dari sayap…
kalau jatuh? Biar Yang Maha Pemberi Jawab yang akan memberikan jawabannya…
yang penting terbang dulu kali ya?..
April 27, 2009 pukul 2:19 pm
# bung Harsa,
betul itu, yang penting terbang dulu, supaya tahu seberapa tinggi kita bisa terbang. Kalau ternyata tidak setinggi yang kita harapkan, barulah kita putar otak lagi, apa yang mesti dibuat agar bisa lebih tinggi. Mungkin latihan tiap hari, atau ndompleng burung lain yang sudah lebih duluan dapat terbang tinggi…;-)
Trims atas komennya.
Mei 3, 2009 pukul 2:38 am
Fly me to the moon!
Hrs punya azzam yg kuat dan kemauan pak. Kalo org lain bisa, maka qt pun pasti bisa.
“Kita tdk akan pernah bs mengukur betapa tingginya sebuah gunung”, tutur seorang filsuf, “hingga kita sdh berada di puncaknya dan mengatakan bahwa sebenarnya tinggi gunung ini tdk seberapa.” Ini artinya, jgn pernah menyerah sebelum pernah mencoba.
Mei 12, 2009 pukul 1:17 pm
#just azzam,
ya kita musti kuat berazam.
Harus bisa! Ya kan? Tetap semangat.
Mei 16, 2009 pukul 8:50 am
sebenarnya anda sudah punya cita-cita untuk terbang karena anda tahu sarang yg sekarang anda tempati akan rusak atau hancur karena tidak dirawat, karena sudah banyak kepentingan pribadi yang tampil. Tapi anda TAKUT untuk terbang karena TAKUT kehilangan kenikmatan yang sudah didapat akan HILANG. Jadi?
Mei 29, 2009 pukul 4:31 pm
#rahmat,
Jadi, tidak perlu takut kehilangan, karena kita sebenarnya tidak punya apa-apa. Jadi ya terbang saja…. Mari kita terbang yuk
Juni 1, 2009 pukul 10:18 am
wah ini pencerahan. terbang saja… tidak perlu takut kehilangan. definisi takut =???. trims. I believe I can fly, I belive i can touch the sky. tentu dengan
Mei 22, 2009 pukul 1:36 pm
gde parama mengatakan : anda tidak bisa terbang karena sayap anda hanya satu, dan bisa terbang karena anda membutuhkan satu kata yakni “memeluk”. Jadi dengan memeluk orang yg anda cintai, anda akan terbang. Dengan memeluk agama, nabi yang anda cintai, anda akan terbang. Jadi dibutuhkan pelukan untuk dapat terbang.
Mei 29, 2009 pukul 4:36 pm
#parama,
saya belum baca buku pak Gde Parama tentang ini. Tapi menurut saya kita sebaiknya berpegang pada motivasi yang tumbuh dari dalam diri sendiri. Tentu kita akan dapat lebih terbang tinggi jika lebih banyak yang mendukung.
Apakah demikian sdr Parama?