Takut Kehilangan, Mengapa Kita Takut
Suatu sore, di halaman sebuah surau, di suatu dusun yang sepi dan tenang, seuasi shalat isya’, seorang murid sedang berdialog dengan sang Guru.
takut kehilangan
Sang murid bertanya: “Wahai Guru, mengapa saya selalu dihinggapi rasa takut kehilangan apa yang saya miliki. Takut miskin, takut kehilangan sesuatu atau seseorang. Bagaimana pula cara mengatasinya? Berikan saya pencerahan.”
Setelah menghela nafas panjang dan dalaaaam, Sang Guru berkata sambil memandangi sang murid: “Anak muda, jika engkau masih dibelenggu oleh “rasa memiliki” maka selama hidupmu engkau akan tak pernah lepas dari rasa “takut kehilangan”. Takut kehilangan apa yang engkau “miliki”. Padahal bukankah sesungguhnya sejatinya, kita tidak memiliki apa2, semua adalah milik Allah, bukan hanya dunia dan alam semesta saja, bahkan diri kita pun, ruh dan jasad kita ini sejatinya adalah milikNya juga. Tapi kita merasa takut karena kita merasa memiliki diri ini, sehingga ketika Sang Pemilik Sejati mengambilnya kita takut akan kehilangannya.”
“Tapi Guru, bukankah takut itu adalah juga karunia Allah seperti juga rasa sakit, sedih dan sebagainya?” Lanjut sang Murid dengan hati yang berdegup2
Sang Guru kembali menjawab: “Benar, rasa takut itu juga karunia Allah. Karena dengan adanya rasa takut itulah kita menjadi hati2 dalam setiap gerak kehidupan kita juga kita menjadi berani, setelah dapat menguasai rasa takut itu.
Tapi sejatinya kita hanya boleh takut kepada Allah, dalam arti takut melanggar larangan2Nya dan takut tidak dapat memenuhi perintah dan menggapai ridhaNya. Takut kita kepada yang lain pun seharusnya didasari rasa takut kepada Allah itu.”
“Dan khususnya “rasa takut kehilangan” dapat engkau atasi jika engkau telah “faham” bahwa sebenarnya kita tidak memiliki apa pun, semuanya milik Allah, Dia berhak mengambilnya kapan Dia mau.!”
mengapa takut
Sambil mengangguk2 sang murid mengiyakan kata2 beliau. Meskipun dadanya masih bergemuruh karena ada pertentangan yang hebat di dalam hati dan akalnya.
Dalam hatinya ia berkata: “Ya Allah, jadi selama ini apa sesungguhnya yang aku takutkan tentang kehilangan sesuatu. Sedangkan semua ini sejatinya adalah mulikMu. Sudahkah aku takut karenaMu?”
Sahabatku semua, apakah Anda juga dapat memahami apa yang sang murid fahami atau merasakan apa yang sang murid rasakan. Kalau sempat mampir kemari, Sudilah membagikan percik pikiran Anda.
Maha Suci Allah dan segala puji hanya patut bagiMu ya Allah.
Aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau
Aku mohon ampun kepadaMu dan padaMu pula aku bertaubat.
























& Komentar
Mei 4, 2009 pukul 2:48 pm
takut kepada Allah, berarti berani terhadap yang tidak benar dengan melakukan yang paling lemah yaitu berdoa di dalam hati dan tidak melakukan yang tidak benar itu.
Takut terhadap orang atau mahlukNya? berarti takut karena ada imbalan yang akan didapatkan akan berkurang atau hilang karena berani terhadap orang atau mahlukNya.
Mei 12, 2009 pukul 1:09 pm
# Pak Agung maaf baru jawab.,
ya benar pak, sebagian bukti takut kita kepada Allah adalah ber amar ma’ruf nahiy munkar, mengajak pada yang baik dan mencegah orang dari berbuat yang buruk. Tentu saja kita perlu “keberanian”
Mei 13, 2009 pukul 10:36 am
hati kecil mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini makin tidak manusiawi karena kerasnya ulah manusia sendiri, sulit sekali mencari wajah ikhlas di kota besar seperti jakarta.
saya TAKUT ada masanya “kesabaran itu seperti memegang bara api di telapak tangan”. Hanya keyakinan yg kuat bagai menegakkan benang yg basah dan berbuat baik dengan ikhlas ( cinta ) yg dapat menyelamatkan “jiwa”.
Mei 7, 2009 pukul 11:34 am
Hi Pak,
Si kecil sudah nyaris 11 bulan, sudah merangkak, berdiri berpegangan meja kursi, marah2 dan ngambek, pokoknya sedang lucu2nya
Apa kabarnya ? Iya ya, sudah lama tidak saling sapa via blog
Kabar kurang baiknya, istri baru keguguran minggu lalu..
Tentang ‘takut’, ketakutan terbesar saya saat ini adalah kehilangan keluarga kecil saya…Mudah2an suatu saat saya mencapai level keikhlasan untuk memandang bahwa semuanya datang dari YME,sehingga saya bisa terlepas dari rasa takut ini…Makasih atas tulisannya ya Pak. Salam dari jauh.
Mei 12, 2009 pukul 1:12 pm
# Bung Baja,
Alhamdulillah, kami sekeluarga sehat wal afiat. Senang mendengar perkembangan si kecil. Jaga kesehatan baik2, gimana di sana “flu-babi” apakah juga mulai menjangkit?
O, ya, sampaikan salam untuk istri Anda, yah, yang shabar saja, kan semua milik Allah ya. Memang sih, semua perlu waktu dan proses, just keep going, you will arrive there someday.
Mei 9, 2009 pukul 11:44 pm
semua ini memang milikNya mas…. terkadang saya juga takut kehilangan apa yang Allah ambil kembali yang telah menjadi milikNya sejak awal yang dipinjamkan kepada saya….tapi dibalik itu semua saya selalu berdoa dan yakin bahwa Allah telah menyiapkan pengganti apa yang Ia ambil, baik itu dalam bentuk keikhlasan atau pun kesabaran….
terima kasih ya mas atas berbagi ceritanya…
Mei 12, 2009 pukul 1:13 pm
#Harsa,
trims atas sharingnya. semoga ini saling menguatkan di antara kita. Thats what friend are for, right? [he he pinjem bahasa "madura"]