Pesan Dakwah

3 02 2008

Hari Sabtu kemarin, saya kedatangan tamu, Bp Muh Sudarman namanya. Menurut pengakuan beliau adalah ‘orang dakwah’. Beliau datang sesuai janji beberapa hari lalu akan main ke rumah, membawa mushaf Al Bayan untuk saya beli.

Dalam diskusi atau beliau sebut mudzakarah, ada beberapa pesan beliau yang walaupun bukan sekali itu saya dengar namun patut saya catat. Kadang-kadang memang kita baru ngeh atau ‘faham’ pada saat kita siap untuk ‘faham’.

Pada saat itu saya ‘ngeh’, mudah2an Anda juga bisa merasakan kefahaman saya.

Pesan beliau sbb:

  1. Menegakkan Shalat. Di akhir zaman banyak orang mengerjakan shalat tapi tidak ‘mendirikan’ shalat. Agar kita termasuk yang mendirikan atau menegakkan shalat maka hendaknya shalat menurut contoh Rasulullah saw, yaitu ada 3 hal:
    • Shalat di awal waktu
    • Shalat di mana adzan dikumandangkan
    • Berjamaah

    Sebelum melakukan 3 hal itu, hendaklah kita takut bahwa shalat kita tidak sempurna atau bahkan belum dianggap shalat, sehingga kita benar-benar dengan sekuat tenaga memenuhinya. Bukankah shalat adalah amal pertama yang akan dihisab/ dinilai oleh Allah. Jika sempurna shalatnya maka sempurnalah amalnya.

  2. Wudhu. Sempurnakan wudhu demi sempurnanya shalat
  3. Istiqamah. Hendaklah beramal istiqamah/ ajeg/ konsisten meskipun sedikit dan terus menerus ditingkatkan [istilah Qualitynya: ‘continual improvement’]. Allah menyukai amal yang dilakukan dengan istiqamah meskipun sedikit daripada banyak namun tidak istiqamah.
  4. Selalu bersyukur. Ucapkan selalu alhamdulillah dengan hati yang ikhlas apapun yang menimpa kita. [beliau memberi contoh yang ekstrim, seandainya seseorang memukul kita, pandanglah ia dan ucapkan alhamdulillah!]
  5. Utamakan akhirat. Banyak dari kita lebih mementingkan urusan dunia daripada akhirat. Sebagai contoh ketika adzan sudah mulai dikumandangkan, kita masih asyik dengan kegiatan kita tanpa mengindahkan seruan atau panggilan shalat tsb. Padahal 1 hari akhirat = 1000 tahun hari dunia. Jadi bagi orang beriman memang tidak masuk akal kalau ia melalaikan akhirat, padahal hidup di dunia ini hanya sejatinya hanya ‘sekejap‘ saja.

Demikian 4 pesan beliau. Rasanya gak ada yang baru ya? Tapi tingkat ‘kefahaman’ kita pada saat menerima informasi itulah yang membedakan dampak dari informasi itu.

Supaya menjadi lebih manfaat, boleh kiranya saya membagi kefahaman saya. Saya rangkum saja karena semua hal tersebut sebenarnya berkaitan erat.

Saya mulai dari yang terakhir. Waktu. Ketika beliau bandingkan ‘waktu dunia’ dengan ‘waktu akhirat’ saya tersentak. Rutinitas selama ini melalaikan saya dari kenyataan yang sangat kasat mata ini. Jika 1 hari akhirat setara dengan 1000 tahun dunia [tolong koreksi kalau ini salah] maka sebenarnya berapa lama kita hidup di dunia ini dibandingkan dengan keseluruhan ‘waktu hidup’ kita. Sedang hari akhirat itu kekal! Maka benarlah ungkapan hidup di dunia ini ibarat ‘mampir minum kopi’ saja! Lalu dimana logikanya – bagi mereka yang beriman pada hari akhirat – untuk lebih mementingkan urusan dunia. Mengingat hal ini saja membuat kita akan selalu berhati-hati dalam beramal, agar dalam waktu yang sudah sangat ‘relatif’ pendek ini kita melakukan hal-hal yang benar agar menjadi bekal akhirat yang manfaat.

Inilah, saudaraku, intisari hikmat yang terkandung di dalamnya:

Akhirnya, setiap amal perbuatan selalu diorientasikan sebagai bekal akhirat. Karena di suatu hari dimana kita semua akan dihisab kelak, tidak ada yang dapat menolong kita kecuali amal-amal kita selama di dunia.

Akhirnya, tumbuh rasa syukur yang mendalam setiap kita dapat melakukan amal baik karena Allah SWT masih berikan kita kesempatan ‘menabung’ untuk bekal kembali nanti. Betapa tidak, ketika kita ‘diberikan kemudahan’ olehNya untuk dapat shalat di awal waktu, di masjid atau mushalla dan berjamaah, berapa banyak yang tidak ‘dimudahkanNya’ untuk bisa melakukan itu.

Akhirnya, setiap mengerjakan shalat betul-betul ‘minta dikhusyukkan’, dan setiap detiknya jadi demikian bermakna, karena setiap detik itulah kita berbekal sebaik-baiknya untuk hari akhirat. Setiap detik berlalu menjadi catatan indah yang insya Allah akan kita terima nanti catatannya dengan tangan kanan kita.

Akhirnya, setiap usai shalat mengucap syukur alhamdulillah yang ‘bermakna’ karena muncul dari ‘kefahaman’ dan dari dalam hati. Merasa beruntung waktu yang berlalu telah dapat kita isi dengan catatan amal yang baik. Sementara menyadari waktu dunia yang terus berkurang. Harap dan cemas akankah cukup bekal ini???

Akhirnya, beramal sesuai perintahNya melalui tauladan Rasulullah SAW menjadi ‘kenikmatan’. Semakin lama shalat semakin nikmat, terasa manisnya iman. Semakin banyak beramal baik semakin tenteram hati, karena tahu setiap yang baik itu, semisal sebesar zarah pun jika dikerjakan dengan istiqamah akan menjadi bekal yang sangat berarti nanti di akhirat.

Menyadari, bahwa bukanlah dengan sebab amal kita ‘saja’ yang membuat kita dapat dimasukkan ke dalam golongan yang beruntung atau golongan kanan. Tapi kita berharap bahwa amal baik itulah yang nantinya akan menjadi jalan turunnya kasih sayang Allah karena cinta kita kepadaNya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan segala puji hanya bagi-MU. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Engkau, Aku mohon ampun kepadaMu dan kepada Mu pula aku bertaubat.

Semoga menjadi bahan renungan yang manfaat. Amin.

[18:35, waktu Banda Aceh]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: