Nilai Waktu Dunia

10 02 2008

Pernahkah Anda merasa sedemikian sibuk hingga 24 jam sehari terasa kurang?

Atau pernahkah Anda merasa bahwa hari berlalu begitu cepat dan Anda tidak menghasilkan apa-apa, atau hanya sedikit mencapai target yang Anda ingin capai hari ini?

Sebagai seorang pegawai atau karyawan, saya sering merasakannya, apalagi kalau atasan atau pemilik perusahaan kita benar-benar ingin mengoptimalkan waktu dan energi serta kemampuan kita agar gaji yang mereka bayarkan efektif dan efisien jika dibandingkan dengan output yang kita hasilkan. Sering karena overload, segala teknik manajemen-waktu yang diimplementasikan tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Makin hari list-to-do bukannya berkurang tapi selalu bertambah…

Sering saya termenung di akhir hari, “Ya Allah, gerangan apakah yang sudah aku capai hari ini sehingga aku merasa berhasil dan waktuku bermanfaat?”

Sering saya merasa bahwa diri belum efektif dan efisien, tapi sampai kapan? Sedangkan ‘waktu tersedia’ semakin pendek
Hingga akhirnya suatu saat, saya mendapatkan kefahaman tentang waktu ini. Sesuatu yang sebenarnya sudah saya atau kita ketahui, namun seperti kata orang bijak, Sang Guru akan datang bila sang murid telah siap. Bukan berarti gurunya tidak ada atau sulit dicari. Tetapi seringkali kitalah yang tidak siap, sehingga meskipun ‘sang guru’ selalu ada di dekat kita, kita tidak dapat merasakan kehadirannya. Kita, atau setidaknya saya memahami, bahwa pada suatu titik, bukanlah kita yang menentukan hasil akhir suatu ikhtiar. Sesuatu kekuatan yang maha kuasa bisa memutarbalikkan rencana yang sudah kita susun rapi. Tentu ini bukan suatu ‘excuse’ bila kita sering gagal. Tapi buat para pekerja ikhtiar yang selalu tidak pernah putus asa dan tidak putus berdoa, ada suatu saat bahwa pada suatu titik tertentu we cannot determine the end result, we just can’t!

Akhirnya, kefahaman ‘sederhana’ ini membawa saya pada suatu keyakinan ‘sederhana’, bahwa: jika ternyata pada hari ini saya telah lebih banyak menggunakan waktu saya untuk amal perbuatan yang diridhaiNya maka sebenarnya itulah hakekat dari efektivitas dan efisiensi penggunaan ‘waktu-dunia’ saya. Sehingga untuk itu saya harus bersyukur karena Allah telah mudahkan saya untuk menggunakan waktu sebagaimana yang dikehendakiNya, karena pada waktu yang sama sungguh banyak mereka yang justru menggunakan sebagian besar waktunya untuk perbuatan yang tidak diridhaiNya. Itulah hakekat ‘mereka yang beruntung’.

Akhirnya, sampai pada kefahaman bahwa hendaknya setiap detik diisi dengan amal ibadah yang Ia ridha dan manfaat bagi diri dan sesama mahlukNya. Karena setiap detik yang dipergunakan dengan benar itulah menjadi bekal yang sangat berguna untuk kembali ke kampung akhirat. Suatu kampung dimana tidak ada yang bisa menolong kita kecuali amal perbuatan kita selama di dunia. Setiap detik diperhitungkan. Sungguh beruntung mereka yang menggunakannya sesuai dengan petunjukNya.

Tentu saja itu bukan lalu berarti berlama-lama berdzikir dalam mesjid atau mushalla sehingga melalaikan ‘kewajiban-dunia’. Kuncinya adalah keseimbangan. Hatilah yang menjadi penakarnya. Bukankah sebaik-baik mahluk adalah yang paling mulia akhlaknya dan paling bermanfaat bagi sesama?

Akhirnya, teringat persamaan 1 hari akhirat= 1000 th dunia. Jadi kalau begitu, ‘secara matematis’ betapa berharganya nilai 1 hari dunia itu, bahkan 1 detik pun sangat berharga. Karena betapa pendek waktu kita yang tersedia untuk mempersiapkan hari akhirat itu, sedemikian hingga sungguh ingin kita memanfaatkan setiap detik dengan sebaik-baiknya.

Mudah-mudahan sekarang kita sudah tidak hanya mulai mengerti tapi juga sudah ‘faham’.

Di dalam AlQuranul karim, Allah SWT sering menyebut-nyebut mereka yang beruntung dan mereka yang merugi, rupanya inilah salah satu hikmah agar dalam setiap tindakan kita selalu menghitung untung-rugi, bukan hanya di dunia ini, tapi lebih penting lagi kelak di kampung akhirat.

Sungguh memang, seperti tidak logis, jika kemudian seseorang yang beriman kepada adanya hari akhir namun ia tidak pernah serius mempersiapkan diri menghadapinya, sedangkan menghadapinya itu adalah suatu keniscayaan.

Akhirnya, semoga setiap detik waktu-dunia kita, kita isi dengan amal ibadah yang diridhaiNya dan semoga Allah menjaga kita agar selalu dalam keadaan beriman.

KepadaNya saya mohon ampun, dan semoga manfaat.

Banda Aceh, 3 Shafar 1429 H


Aksi

Information

4 responses

23 03 2008
nenyok

Salam
Subhanalloh Pa, alhamdulillah saya serasa diingatkan.
Kalau tidak salah malah ada ungkapan waktu itu kan laksana pedang, yang akan menikam kita jika kita tidak menggunakannya dengan baik, hmm begitu berharganya waktu.
Salam kenal
-nenyok-🙂
wassalam

23 03 2008
Diaz Susetyo

Wa alaikum salam mas ‘nenyok’ [he2 namanya keren banget]. Senang Anda sudah kasih comment. Sering2 mampir ya. Siapa tahu ada yang manfaat.

Semoga Allah SWT merahmatimu selalu saudaraku.

Wass wr wb.,

20 04 2009
agung

Pak Diaz.
Yang penting adalah laku, ngalakoni, menjalani dengan iklas, dengan sabar dan tawakal. Mencegah hati menjadi ujub, riya’, hasad, iri, dengki, syirik, sombong. Jadi bagaimana memandang semua kejadian atau jalan yg sudah diambil atau dijalani itu dengan belajar terus, tidak berusaha menjadi sombong untuk mengajari orang lain yg sesungguhnya sangat sulit karena adanya an-sich, ego bahkan kadang kita tidak menyadari bahwa mimik muka atau gerak tubuh kita sudah menunjukkan bahwa kita menjadi pribadi yang sombong baik dalam bekerja, beribadah, berbicara, berteman bahkan terhadap cara memandang diri kita sendiri.
Jadi kenali dirimu sendiri, baru kamu akan mengenali penciptaMu, asal dengan sabar dan ridhoNya. Makrifat artinya belajar terus meski kadang sepertinya kamu kalah, tidak berhasil, karena kalau kamu YAKIN bahwa ada YANG MAHA KUASA yg mengatur maka tidaklah kamu menjadi sombong barang sekecil biji sawipun.

Pak Agung yang bijaksana, terimakasih banyak atas nasihat bapak yang “sangat mendalam”. Saya jadi berkaca diri, dan semoga Allah tidak jadikan kesombongan diri, walau sebesar biji sawi pun. Amin. Mohon doanya ya pak. O ya apakah bapak belum punya blog? kalau punya sudilah memberitahu agar dapat bersilaturahim.
wass wr wb

20 04 2009
rhainy

Assalamu’alaikum…
Pak…terima kasih….lagi2 harus bersyukur..karena dg blogwalking ke sini…yang tadinya hanya mau ‘laporan’ malah dapat manfaat lagi….
‘target diri’nya kurang sukses nih Pak…hehehe…banyakan bolong hafalannya …jadi malah gak ada maju2nya…kalo soal yang lain..insya Allah…lagi di coba untuk istiqomah….
doakan ya…
Salam buat Mbak dan anak2….
Wassalam…

alhamdulillah, laporan diterima. untuk hafalan, mungkin pakai ide ust Yusuf Mansur: One day one ayat. Kuncinya memang tidak boleh buru2 dan ikhlas. Gampang kok [he he gampang ngomongnya susah melakukannya] Ayo semangat lagi.
Salamnya insya Allah disampaikan, salam balik ya utk keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: