Hatimu adalah seperti sebuah Gelas atau Telaga?

20 12 2009

Sahabat, pernahkah Anda bertanya atau ditanya dengan pertanyaan di atas?

Hatimu adalah seperti gelas atau telaga? It’s your choice.

Selamat menikmati artikel menarik berikut, semoga dapat menjadi bahan renungan, inspirasi dan motivasi di tahun yang baru ini. [terima kasih kepada sahabat Bambang Joko Ramadiarto dan Hendy Kurniawan atas forwardan artikelnya]

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1341 H sahabat. Semoga Allah jadikan tahun ini lebih baik dan berkah. Amin.


Subject: Artikel : Belajar Melapangkan Hati

Dear Sahabat,

Tahun 2009 akan segera berakhir dan tahun 2010 yang penuh harapan akan segera tiba.

Diantara kita pasti banyak sekali yang sudah menorehkan mimpi, cita – cita, target dan harapan lengkap dengan berbagai perencanaan jitu beserta alat ukur untuk mengukur pencapaiannya. Namun terkadang kita lupa mempersiapkan yang satu ini, PERSIAPAN HATI.

Mungkin cerita di bawah ini bisa kita jadikan referensi untuk melakukan persiapan hati menuju 2010.

Selamat membaca semoga bermanfaat…

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah, Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air.

Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan,

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua

“Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

“Bagaimana rasanya ?”

“Segar”, sahut si pemuda.

“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua

“Tidak, ” sahut pemuda itu

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

“Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

telaga

Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak tua itu lalu kembali memberi nasehat:

“Hatimu adalah wadah itu; Perasaanmu adalah tempat itu; Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.

Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik”

“Dikutip dari sebuah blog tentang salah satu kota di Jawa Timur”


Aksi

Information

6 responses

22 12 2009
Lex dePraxis

Pertama-tama, salam kenal aja yah karena saya pribadi agak lupa pernah berkunjung di sini atau belum.🙂

Tulisan yang menarik, karena rasanya jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Saya pikir perenungan seperti ini memang berguna, karena di jaman modern ini kita jarang sekali meluangkan waktu untuk refleksi walau sedikit saja. Saya juga ada menuliskan cerminan lainnya dalam Fakta Dibalik Resolusi Tahun Baru. Semoga bisa saling membantu dan memperkaya wawasan kita semua.

Sekali lagi, salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

Lex dePraxis
Unlocked!

29 12 2009
agung

saya merenung. lingkungan, siraman, dan makanan hati itu harus diupayakan. gimana kalau lingkungannya sudah tidak benar, siraman tidak berani dilakukan, dan makanan juga tidak benar. jadi ya memang seharusnya keluar dari lingkungan atau hijrah, tapi sering yg terjadi adalah ketakutan thd rejeki, uang, pangkat, harta, dll. saya mengatakan kita adalah orang yg permisive ( alias munafik ). astagfirullah.
saya merenung jangan-jangan kita sudah tidak takut lagi thd Allah Jazza Wa Jalla. Ingat-ingat. Bernasehat dalam kebaikan adalah wajib. jngan-jangan kita memang takut membicarakan kebaikan.

5 02 2010
wahyu

Baca buku dong.
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. -Ajahn Bram

8 03 2010
indra

ya bagus,
ya teruskan
ya buat pembaca tambah sabar dan syukur
ya kita harus lapang dada dan berpikir kita pasti bisa dengan limpahan rahmat alloh swt yang begitu luas……

8 03 2010
indra

kita kerja / bertindak tetai kurang bercita2 ,,,,,,,,,,,,,,,, BETUL YAAAA!!!!!!!!

8 03 2010
indra

kita kerja / bertindak tetapi kurang bercita2 ,,,,,,,,,,,,,,,, BETUL YAAAA!!!!!!!!
islam jaya indonesia merdeka dari korupsi22222222222222222222,,,,,,,22,,,,;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: