Siapkah Anda menjadi Pribadi yang Luar Biasa ?

11 03 2010

Anda tentu sudah tahu apa perbedaan biasa dan luar biasa. Dan tentu yang luar biasa [dalam kebaikan] itu mempunyai nilai jauh lebih baik daripada yang biasa2 saja. Namun anehnya kebanyakan kita merasa cukup dengan hanya menjadi pribadi yang biasa saja.

Pribadi yang biasa ketika ia disakiti akan membalas menyakiti, pribadi yang luar biasa akan memaafkan orang yang menyakiti, bersikap baik padanya dan mendoakan kebaikan kepada yang menyakiti. Keburukannya dibalas dengan kebaikan, dengan ikhlas.

Pribadi yang biasa mengharapkan kebaikannya kepada orang lain akan dibalas pula dengan kebaikan. Jika kebaikannya tidak dihargai atau bahkan diacuhkan maka ia akan kecewa, sakit hati atau bahkan mengumpat orang yang kepada siapa ia berbuat baik, karena kekecewaannya. Pribadi yang luar biasa berbuat baik kepada sesama dengan dasar ikhlas, semata mengharap ridha Allah. Jika perbuatan baiknya tidak dibalas dengan kebaikan atau diacuhkan hatinya tetap ikhlas dan ia sedikit pun tidak merasa kecewa, karena bukan balasan sesama mahluk yang diharapkannya, namun balasan dari sang Khalik.

Pribadi yang biasa ketika diberi ujian dan cobaan, senantiasa mengeluh, menyalahkan Allah dan orang lain. Segenap pikirannya hanya tertuju pada sisi buruk dari ujian dan cobaan itu, hatinya selalu diliputi ketidak sabaran dan ketidak syukuran, mengumpat sana mengumpat sini, memuaskan hawa nafsu amarahnya. Pribadi yang luar biasa akan tetap tabah, sabar dan syukur seberapa berat pun ujian dan cobaan. Karena ia yaqin dibalik semua itu Allah telah sediakan kemuliaan yang besar. Ia yaqin cobaan dan ujian itu sebagai sarana Allah untuk memuliakannya. Bukankah sepotong besi tempa harus dibakar hingga merah membara lalu ditempa dan dibentuk sehingga menjadi suatu karya yang bernilai tinggi. Besi itu tetap akan menjadi besi tanpa melalui bakaran dan tempaan.

Pribadi yang biasa merasa cukup dan bahagia dengan gemerlapnya dunia hingga melalaikan akhiratnya. Pribadi yang luar biasa lebih mengutamakan persiapan kehidupan akhiratnya dengan tidak melupakan bagiannya di dunia. Ia memahami benar bahwa kehidupan dunia sungguh amat kecil jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat dalam segala dimensinya. Oleh karena itu ia cerdas dan berwawasan jauh ke depan melampaui dimensi dunia menembus ke dimensi akhirat. Dunia bukanlah tujuan tetapi hanya sarana untuk bekal yang baik menyambut kehidupan di kampung akhirat.

Pribadi yang biasa merasa cukup dengan menjadi diri pribadi yang shalih tanpa merasa perlu menebar kebaikan kepada sesama mahluk Allah yang lain. Ia sudah puas dengan pemenuhan dirinya sendiri. Pribadi yang luar biasa tidak merasa cukup hanya dengan keshalihan diri. Ia ingin dapat berbuat kebaikan bagi sesama mahluk Allah yang lain, selalu menyemangati dan menginspirasi agar selalu berupaya menjadi lebih baik. Ia ingin menjadi shalih sekaligus berdaya guna.

Sahabatku yang dirahmati Allah, menjadi pribadi yang biasa atau yang luar biasa adalah pilihan. Setelah membaca tulisan di atas masihkan Anda merasa puas hanya menjadi pribadi yang biasa saja? Atau mulai terinspirasi untuk menjadi pribadi yang luar biasa?

Semua terserah Anda!


Aksi

Information

6 responses

11 03 2010
Benedikt_AW

Luarrrrrrr biaaasssssaaaaaaaa🙂

Salam bentoelisan
Mas Ben
http://bentoelisan.blog.com

12 03 2010
dsusetyo

Mas Ben, suatu kehormatan Anda berkunjung kemari. Trims berat ya. Ninggal pesan lagi. Singkat tapi tetap luarrrr biasaaaa…;-)

11 03 2010
Toga Nainggolan

Kembali hidup motivasi saya, untuk terus memperbaiki diri. Tak bisa menjadi luar biasa, setidaknya menjadi lebih baik dari yg sekarang. Tq for this inspiring post, mas.😀

12 03 2010
dsusetyo

Sama-sama bang. Memang nikmat ya hidup saling menyemangati untuk selalu menjadi lebih baik.

Eh ngomong2, tampilan blog Anda baru dipermak ya, lebih ciamik dan enak dipandang. Dan tentu saja slogan itu yang saya suka: “You are as happy as you want!”. Horas bah.

13 03 2010
Mulyana

ah, betapa malunya saya, menjadi pribadi yang…mungkin jauh di bawah dari yg biasa…
terima kasih, tulisannya membuat saya merenung…

16 03 2010
The Power of Kepepet « DSusetyo's Weblog

[…] Hm akhirnya jadi juga nulis tentang kekuatan dahsyat “kepepet”, setelah sempat kesalip [didahului] oleh “Siapkah Anda menjadi Pribadi yang Luar Biasa ?”. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: