Hubungan Penggunaan Ponsel atau Smartphone dengan Tingkat Stress dan Kebahagiaan

14 01 2014

BANYAK orang mengira seseorang yang sering kedapatan asyik sendiri dengan gadget atau ponsel pintarnya sebagai sosok yang sibuk dan mempunyai banyak teman. Padahal menurut sebuah studi, mereka jauh lebih menyedihkan daripada orang-orang yang bisa menahan diri untuk tidak membuka-buka ponselnya.

Kata peneliti, mereka yang mengaku tidak bisa lepas dari ponsel tidak sebahagia orang yang bisa bertahan dari dering telepon atau SMS masuk. Bahkan, mereka disebut menderita kecemasan tingkat tinggi.

Image

Peneliti mendapatkan kesimpulan itu dengan melakukan pengamatan terhadap mahasiswa. Terbukti mereka yang tidak bisa jauh dari ponselnya memiliki nilai akademis yang lebih rendah daripada mereka yang bisa mematikan ponselnya, misalnya di saat jam kuliah berlangsung.
Setelah mengamati kebiasaan 500 mahasiswa berusia 18- 22 tahun menggunakan ponselnya dan bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan mereka, diketahui bahwa mereka yang menghabiskan banyak waktu dengan ponselnya justru sering cemas karena merasa harus stand by setiap saat di dekat ponselnya.

Menurut peneliti, beberapa mahasiswa yang diinterview juga mengaku berkirim SMS sepanjang siang dan malam sendiri sudah cukup membuat mereka stres.
Ini juga berlaku untuk orang-orang yang tidak bisa lepas dari jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Untuk mengukur tingkat kecemasan dan kepuasan hidup masing-masing partisipan, peneliti menggunakan alat ukur klinis. Studi yang dilakukan Jacob Barkley, Aryn Karpinski dan Andrew Lepp dari Kent University, Ohio ini bertentangan dengan temuan sebelumnya yang menyebut ponsel mampu meningkatkan interaksi sosial dan mengurangi perasaan terisolir. Berdasar penelitian terbari di Kent University itu, penggunaan ponsel secara berlebihan sengat berkaitan dengan tingginya stres yang dialami si pengguna.

Hal ini diperkuat dengan pengakuan sejumlah mahasiswa yang terlibat dalam studi ini. Seorang mahasiswa mengatakan jejaring sosial terkadang membuatnya merasa sedikit terikat dengan si ponsel. Ada juga yang mengeluh ponsel membuat teman-temannya merasa bisa menghubunginya kapanpun mereka mau.

“Akibatnya mereka tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, padahal saya kira memiliki waktu untuk diri sendiri sangat diperlukan bagi kesehatan mental, terutama untuk refleksi diri, introspeksi, memproses berbagai kejadian dalam hidup dan memulihkan diri dari stres sehari-hari,” kata salah satu peneliti, Andrew, seperti dilansir laman Daily Mail, Rabu (1/2).(fny/jpnn)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: