Makna Di Balik Kata Ramadhan

15 09 2009

Makna di balik kata RAMADHAN

Tausiyah Ramadhan ba’da dzuhur, hari ke 25, 1430 H, 14 September 2009

Ustadz Asep Kamaluddin, Masjid An Naml, Menara Jamsostek, Jakarta.

Ramadhan dibentuk oleh lima huruf: ra, mim, dha, alif dan nun.

Ra artinya riyadhah = latihan, melatih diri menahan hawa nafsu/ yang membatalkan puasa, dan juga hati dan pikiran.

Hati untuk berdzikir, akal atau pikiran untuk berpikir. Kedua2nya harus disucikan dan hanya boleh diperuntukkan bagi Allah saja.

Sering terjadi salah memfungsikan akal dan hati sehingga timbul stress. Hati sejatinya hanya untuk berdzikir kepada Allah BUKAN untuk berpikir. Jadi sebesar apa pun masalah yang dihadapi, letakkan ia di pikiran untuk dipecahkan dan biarkan hati tetap berdzikir kepada Alah sehinga hati tetap tenang dan shabar. Tapi jika masalah sudah dimasukkan ke dalam hati, sehingga hati yang seharusnya hanya untuk berdzikir sudah tercampur dengan hal-hal selain Allah maka yang timbul adalah gelisah dan resah.

Mim artinya maghfirah. Inilah saatnya kita benar2 memohon ampun kepada Allah atas semua dosa2 kita dengan sesungguh2nya. Taubat dengan taubat nasuha. Apa tanda2 orang yang taubatnya diterima > ia menjadi orang yang pemaaf. Jadi jangan hanya pandai meminta maaf tapi juga harus menjadi pemaaf. Orang yang pemaaf itu hatinya tenang, karena ia tidak punya kepentingan selain hanya mengharap ridha Allah. Hatinya terbebas dari suudzon dan dendam. Hatinya lapang dan bersih yang tercermin dari akhlaqnya. Jadi tanda taubat dikabulkan adalah orang itu jadi bersifat pemaaf.

Dha artinya [gak begitu jelas kedengaran] tapi intinya dijamin Allah diampuni dosa2nya seperti bayi yang baru lahir.

Al Hadits:

”Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)

 

Dijelaskan apa makna di balik jaminan suci seperti bayi. Bayi itu jika ia diajak bercanda oleh siapa pun, baik ia orang yang shaleh, kafir, kaya, miskin maka ia akan tersenyum, dengan senyum yang tulus dan ikhlas dari hatinya, tidak membedakan dengan siapa ia tersenyum. Kapankah kita bisa tersenyum dengan ikhlas seperti bayi, ketika kita berinteraksi dengan orang lain?

Alif artinya istiqamah. Sudah jelas. Puasa harus dilaksanakan dengan istiqamah, terus menerus dalam arti, nilai2 mulia yang ada dalam puasa itu harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari2. Tidak hanya di bulan Ramadhan saja, tapi di sepanjang tahun.

Nun artinya nurullah, cahaya Allah.

Seseorang yang puasanya benar maka ia akan mendapat cahaya Allah. Ia akan mendapat hidayah, ilmu, barakah dan ampunan. Ia dikaruniai bashirah, yakni ia bisa melihat kebaikan dan keburukan yang nyata maupun yang tersembunyi.

Apa contoh kebaikan yang tersembunyi? Allah jika mencintai hambaNya ia akan diberikan penyakit yang seakan2 tidak bisa disembuhkan, padahal setiap penyakit pasti ada obatnya. Seseorang yang dikaruniai bashirah bisa melihat kebaikan yang tersembunyi di balik ujian sakit yang diberikan Allah tersebut, yaitu adanya ampunan Allah, dan hatinya tetap shabar, sebab ia yaqin Allah tidak akan membebani hambanya dengan beban yang lebih berat dari apa yang mampu dipikulnya.

Atau juga ditimpakan masalah yang seolah tak ada jalan keluarnya, tapi ia tetap shabar dan yaqin pasti Allah akan berikan jalan keluar. Ia shabar karena ia dikaruniai bashirah sehingga ia bisa melihat dengan mata hatinya kebaikan di balik ujian yang menimpanya, yang orang biasa melihatnya sebagai malapetaka sedang ia tidak. Dengan bashirah itu ia mampu shabar dengan sebenar2 shabar, karena ia tahu hakikat kejadian yang menimpanya. Dari shabarnya itu maka turunlah ampunan Allah.

Disampaikan kelak di surga terdapat banyak pintu2 masuk, pintu2 yang lain ramai orang antri untuk masuk melaluinya, kecuali satu pintu. Pintu itu ialah pintu shabar. Kelak Allah akan memberikan kelebihan bagi orang2 yang masuk melalui pintu itu.

Memang shabar itu berat, sebagaimana firmanNya,

QS 2:45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,

Tapi sebagai balasannya Allah akan selalu beserta orang-orang yang shabar sebagaimana firmaNya:,

QS 2:153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Contoh keburukan yang tersembunyi adalah riya’ dan tidak ikhlas. Yakni ibadah yang tidak murni mengharap keridhaan Allah. Maka berhati2lah dengan dzikir yang khusyuk, shalat yang khusyu dan ibadah2 lain, lihatlah apakah telah dilakukan dengan hati yang ikhlas?

Bashirah juga berarti disinari cahaya Allah, hatinya bisa mementukan mana yang baik dan mana yang buruk menurut Allah. Yang baik ia ikuti yang buruk ia tinggalkan. Maka bukankah ini hakikat dari taqwa?

Jadi inilah makna dan hakikat di balik perintah puasa Ramadhan yang dimaksudkan untuk menempa kita agar menjadi hamba yang bertaqwa, seperti dalam firman Allah berikut:

QS 2:183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Jadi seseorang yang berpuasa hanya akan mencapai derajat taqwa hanya jika ia telah memenuhi kriteria2 di atas.

Demikian apa yang dapat saya tangkap dan tuliskan.

Kalau ada yang keliru mohon dimaafkan dan dikoreksi karena yang salah pasti dari saya, yang benar hanya dari Allah. KepadaNya jua saya mohon ampun.

Iklan




Jadwal Imsakiyah dan Bazar Buku di Kantor

24 08 2009

Assalamualaikum wr wb.,

Sahabat sekalian bagaimana puasa Anda sekalian?
Ada sesuatu yang tidak biasa atau biasa2 saja? Silakan berbagi cerita.

Seperti biasa di kantor2 sekarang musim taklim ba’dha dzuhur. Demikian pula di kantor saya. Ada juga bazar buku dari berbagai penerbit.

Kalau Sahabat ada waktu silakan datang ke masjid kantor kami di Menara Utara Jamsostek, Jalan Gatot Subroto, Jakarta [seberang gedung Patra Jasa]

Berikut brosurnya:

jadawal imsakiah ramadhan 1430 H

jadawal imsakiah ramadhan 1430 H

bazar buku ramadhan

bazar buku ramadhan

Silakan datang, and be inspired…





Alhabib Islamic Greeting Card

21 08 2009





Ramadhan Mubarak, Akhirnya…

19 08 2009

Assalamu’alaikum wr wb.,

Tak terasa hampir dua bulan tidak posting apa pun.  Saya sedang “mengkhatamkan” pelajaran internet marketing saya. Hari2 ini, menjelang saat terakhir.  Ibarat belajar silat, insya Allah, sebentar lagi siap “turun gunung”, malang melintang di dunia internet marketing.

Sementara itu, yah, sebentar lagi sang Tamu Agung Ramadhan mubarrak segera tiba. Dan seperti biasa, persiapan2 dilakukan, meski tidak bisa maksimal. Ada saja urusan dunia yang menyita waktu. Duh, sampai kapan ya?

Minimal, dengan senantiasa berdoa, agar Allah siapkan ruh dan jasad kamii sekeluarga untuk menyambut sang Tamu Agung ini. Agar dijadikannya Ramadhan ini [mengulang doa tahun lalu] dapat mengubah kehidupan kami jadi jauh lebih baik dalam segala aspeknya. Amin.

Rencana menghafal Juz Amma juga gak kesampaian. Baru An Naba’, lalu masuk ke An Naziat, berhenti di ayat yang ke sepuluh.

Alhamdulillah, kapan hari, adinda istriku tercinta, menghadiahi aku dengan Al Quran yang ada terjemahannya per kata, jadinya lebih nyaman kalau membaca atau menghafal, karena bisa tahu arti per katanya. Hal lain yang juga saya anggap bermanfaat:

  • Catatan kaki diberikan di setiap halaman
  • Tanda2 baca [tanda waqaf dan pedoman praktis berwaqaf, nun washal, ayat2 sajdah]
  • Cara-cara membaca tanda-tanda khusus [berikut lokasi ayatnya]:
    • ayat2 saktah
    • tanda sifir
    • imalah, isymam, tashil, naql
  • Klasifikasi ayat-ayat Al Quran

Al-Quran ini namanya Syaamil al Quran tipe hijaz, terjemahan per-kata, terbitan Syaamil International [Sygmacorp]. Ada satu kekurangan menurut saya, yaitu tidak ada terjemah dari nama surah. Namun itu semua tak mengurangi manfaatnya yang lain.

Sahabat yang dirahmati Allah, mari kita sambut Ramadahan mubarrak dengan penuh sukacita. Sebagaimana penggalan sabda Rasulullah SAW dalam salah satu khutbah menyambut Ramadhan:

Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.”

Semoga Allah jadikan kita hambanya yang bertaqwa sebagai hasil penggemblengan di bulan suci ramadhan ini. Amin.

Postingan terkait:





Marhaban Ya Rajab

24 06 2009

Sahabat rahimakumullah,

Alhamdulillah tak terasa Rajab telah tiba, artinya 2 bulan lagi sang “tamu agung” Ramadahan akan tiba. Artikel kiriman seorang sahabat saya di bawah semoga menjadi motivator kita untuk segera mempersiapkan diri menyambut bulan2 istimewa ini. Silakan baca semoga manfaat.

[kutipan2 hadits yang dicantumkan tidak secara jelas menunjukkan siapa perawinya, namun hendaklah itu tetap menggairahkan semangat kita untuk beribadah lillaahi ta ‘ala, sedangkan balasan amal itu biarlah Allah azza wa jalla yang lebih berhak menentukannya]

Assalamu’alaikum Wr..Wb..
sahabat-sahabat yang dirahmati Allah SWT .

Bismillaahirahmanirrohiim.

Wahai  Saudara-saudaraku yang budiman,

Pada hari Rabu  tanggal  24 Juni 2009 kita memasuki bulan Rajab.
Bulan Rajab adalah bulannya  Allah. Mari kita simak ada apa di balik bulan Rajab  itu.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,  “Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka:

*  Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan  ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH  SWT;

* Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj  ( 20 Juli 2009 ) akan mendapat pahala seperti 5 tahun  berpuasa;

* Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT;

* Barang siapa yang  berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3 Rajab ( 24 ;25 ; 26 Juni 2009 ) maka ALLAH akan memberikan pahala seperti  900 tahun berpuasa  dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat;

*  Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, insyaallah permintaannya akan dikabulkan;

* Barang siapa berpuasa  tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka  Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan  delapan pintu syurga;

* Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam  bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu  dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang  siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan  pahalanya.”

Sabda Rasulullah SAW lagi :
“Pada malam Mi’raj,  saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih  sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk  orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab  ini”.

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita :
“Ketika kami  berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah  berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya  Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda  :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya  berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa   atas  mereka”.

Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya  mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di  bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam  kubur.”

Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa  satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat  mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi  ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim  lelaki dan perempuan yang berpuasa satu
hari dan mengerjakan sholat  malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali  ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan  sholat malam satu tahun.”

Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab  adalah bulan ALLAH, Sya’ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan  adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar  pada hari kiamat, kecuali para nabi,keluarga nabi dan orang-orang  yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan  Ramadhan.

Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan  merasa lapar dan haus bagi mereka.”

Wassalamu’alaikum  wr.wb,

Kirimkan email ini kepada rekan-rekan yang lain.
Insya  Allah bermanfaat





Ramadhan Hari ke 3, FOKUS

3 09 2008

Alhamdulillah, sudah lewat hari ke 3 Ramadhan [bersyukur karena Lebaran sudah makin dekat dan puasanya jadi tinggal kurang lebih 27 hari lagi, atau bersyukur karena telah dimudahkan Allah untuk dengan baik melaksanakan shaum tiga hari berturut-turut ???]. Saya juga bersyukur kerja di kantor sangat perhatian ke karyawannya, selalu disediakan kue2 dan minuman untuk berbuka. Semoga ini jadi berkah bagi tempat kerjaku. Bayangkan, menyediakan buka bagi seluruh karyawannya yang berpuasa, setiap hari.

Kalau bekerja dan mencapai tujuan harus FOKUS, puasa juga harus FOKUS, FOKUS dan FOKUS pada tujuan puasa. Yaitu menjadi orang yang bertaqwa, kata pak ustad kemarin jika tidak jadi bertaqwa berarti puasanya belum berhasil baik.

Tiga hari ini, ada yang tinggal tidak ya ibadah-ibadah sunnahku,

apakah sudah bisa tadarrus minimal satu juz sehari sambil merenungkan maknanya?

Emmm ???

Hayo, diri lemah: FOKUS, FOKUS dan FOKUS.

[bentar lagi tarawih nih di lantai 3.] Selamat Fokus pada tujuan puasa, sahabat2ku. ya FOKUS.

Wass wr wb.,





Tiga Prinsip Berinteraksi dengan Al Quran Selama Ramadhan

30 08 2008

Ass wr wb.,

Sahabat2 yang dirahmati Allah SWT, semoga artikel kutipan ini bermanfaat bagi kita semua dalam menyambut sang Tamu Agung yang segera tiba:

————————————————————

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..” (QS Al-Baqarah 2:185)

Berdasarkan firman Allah tersebut di atas, selain sebagai bulan puasa, syahrul shiyam, Ramadhan juga merupakan syahrul Quran.

Maka bukti bahwa kita telah menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Quran apabila kita telah melaksanakan semua prinsip yang ada di dalam petunjuk pelaksanaan berinteraksi dengan Al Quran sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Karakter-karakter dalam berinteraksi dengan Al Quran supaya maksimal hubungan kita dengan Al Quran dalam bulan Ramadhan dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah sebagai berikut.

Pertama, adanya penyibukan diri dengan Quran.

Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT telah berfirman, ”Barangsiapa yang disibukkan dengan Al Qur’an dan berdzikir kepada-Ku, hingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka aku akan memberikan apa yang terbaik yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan firman Allah atas perkataan makhluk-Nya adalah seperti keutamaan Allah atas semua makhluknya.” (HR. Turmudzi)

Dalam hadits ini kita menggarisbawahi kata disibukkan. Kata disibukkan di sini menunjukkan bahwa di antara interaksi kita dengan Al Quran adalah penyibukan diri kita dengan Al Quran. Penyibukan itu berarti kita bersedia untuk menjadikan sebagian besar waktu kita untuk Al Quran, maupun tetap memperhatikan keseimbangan dengan kegiatan lain dengan untuk Al Quran, sehingga kita tetap berada dalam terminologi sibuk dengan Al Quran.

Maka tidak mungkin kita bisa sibuk dengan Al Quran kecuali bahwa kita harus bisa mewaspadai waktu-waktu kita agar jangan sampai tersedot oleh hal-hal lain, jangankan yang maksiat, bahkan yang mubah pun harus diwaspadai jangan sampai terjadi berlebihan, seperti tidur. Tidur itu mubah, tapi karena ini Ramadhan, maka harus diwaspadai, jangan sampai waktu kita tersedot untuk tidur yang berlebihan, sehingga kita bukannya sibuk dengan Quran, tapi sibuk dengan tidur, atau hal mubah lainnya seperti televisi dan seterusnya.

Mereka yang sudah berhasil menyibukkan diri dengan Al Quran, bukan berarti kemudian akan kehilangan kesempatan-kesempatan bagian dari kehidupan dunia ini. Mereka tetap orang yang dapat hidup secara normal, secara standar, tanpa harus menghilangkan kesempatan-kesempatan kehidupan duniawi ini.

Maka tidaklah orang yang meyibukkan dengan Al Quran, melainkan dijanjikan, ”Aku berikan kepadamu dengan pemberian yang lebih baik daripada yang diberikan kepada orang-orang yang berdoa.”

Jadi dengan “sibuk dengan Al Quran” itu, seseorang akan mendapatkan semua yang didapatkan oleh orang beriman pada umumnya. Karena ketika bersama Al Quran, otomatis kita beritighfar, otomatis kita minta surga, otomatis kita bertasbih, bertahlil, semua bentuk permintaan kita kepada Allah ada di dalam Al Quran ini. Otomatis generasi kita generasi yang baik, karena ketika sampai di Al Furqon kita pasti membaca Robbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun, dan seterusnya.

Kalau kita mengambil pelajaran umat Islam terdahulu, mungkin orang sekarang akan menilai ”sibuk dengan Al Quran” yang ekstrim, karena hampir memutus semua kebiasaan yang ada.

Kalau masyarakat Islam terdahulu, bahkan para ulama sampai memutus sementara hubungan dengan masyarakat, jadi tidak ada lagi yang mengajar hadits, fikih, tafsir. Semua ulama libur mengajar, Ramadhan khusus untuk menyibukkan diri.

Tapi kalau hal ini kurang cocok di negeri ini, karena masyarakat ini di luar Ramadhan saja tidak mau mengaji, nah, kalau para ustadznya memutus pengajian selama bulan Ramadhan, maka masyarakatnya tambah tidak bertemu lagi dengan pengajian. Karena  masyarakat kita, baru mau mengaji begitu Ramadhan.

Kita juga dapat mengambil hikmah dari bagaimana ”sibuk dengan Al Quran”-nya Imam Asy-Syafii yang sepanjang hari selalu selesai sekali khatam, terlepas catatan-catatan yang ada, atau benar atau tidaknya.

Hal itu menjadi bukti bahwa dalam hidup kita harus ada ”sibuk dengan Al Quran”, sehingga ketika di luar Ramadhan belum bisa ”sibuk dengan Al Quran”, maka di Ramadhan inilah kesempatan untuk menyibukkan diri dengan Al Quran.

Walaupun untuk sebuah proses pendidikan bisa jadi setiap kita memiliki kemampuan  yang berbeda-beda. Misalkan bagi yang sangat sibuk, bisa khatam satu kali dalam bulan Ramadhan itu sudah prestasi yang bagus sekali.

Sedangkan bagi yang pernah bisa khatam satu kali selama Ramadhan, sesungguhnya punya kemampuan untuk dua kali khatam, sehingga kemampuan ”sibuk dengan Al Quran”-nya meningkat. Bagi yang pernah 2 kali, maka sesungguhnya punya potensi untuk 3 kali khatam, dalam rangka ”sibuk dengan Al Quran”, dan seterusnya.

Secara standar untuk kehidupan yang masih manusiawi, sesungguhnya kita punya kekuatan untuk khatam Al Quran dalam Ramadhan itu kurang lebih sampai 10 kali. Kalau kita mau merintis, kemampuan ke sana sebenarnya ada, asal mau fokus. Buat 3 hari khatam, 3 hari khatam lagi, 3 hari khatam lagi dan seterusnya.

Untuk bisa mencapai hal itu, diperlukan fokus, dan kerjasama semua pihak, adanya keluarga di rumah yang saling mendukung. Serta diperlukan kemampuan baca yang sudah lancar, antara penglihatan dan pengucapan sudah cepat, bukan lihatnya kapan, bacanya kapan. Insya Allah bisa.

Pada akhirnya, disesuaikan pada setiap diri kita masing-masing, yang penting selalu ada peningkatan dari tahun ke tahun.

Kedua, al man-u, tercegah.

Rasulullah bersabda: ”Puasa dan Quran itu nanti di hari kiamat memintakan syafaat seseorang hamba. Puasa  berkata: Ya Allah, aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya.

Dan berkata pula Al Quran: Ya Allah, aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memintakan syafaat.” (HR. Ahmad, Hadits Hasan)

Kata ”mencegah” di sini, dimaksudkan mencegah tidur. Artinya, bilamana Al Quran itu mencegah kita untuk melakukan aktifitas-aktifitas mubah kita, khususnya tidur, khususnya lagi di waktu malam, serta aktifitas-aktifitas mubah yang lain. Mungkin tiap hari kita mempunyai jatah nonton tv, nonton berita, trus dialog, trus, tidak selesai-selesai. Untuk Ramadhan, sebaiknya stop dulu semua, tak ada tv dulu.

Maka di sini ada “mencegah”, sejauh mana Al Quran bisa mencegah berbagai aktifitas mubah kita, apalagi yang maksiat, maka waktu dan aktifitas kita difokuskan untuk al Quran. Sehingga Al Quran mencegah diri kita dari bersantai, dari lalai, melamun, hatta mengobrol. Semua waktu dan aktifitas menjadi sangat berarti karena Al Quran.

Ketiga, at takrir, penghargaan.

Rasulullah bersabda, “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain.

Penghargaan ini tekait dengan perasaan dalam diri. Maka hadits tersebut merupakan dorongan dari Rasulullah agar setiap orang beriman punya perasaan tentang keagungan Al Quran di dalam dirinya, perasaan nilai yang sangat berarti.

Kalau menginginkan hal yang terkait dengan duniawi semua sudah bisa, lihat rumah bagus, pengen, mobil bagus, ingin. Nah, bagaimana kemudian dalam diri orang beriman bisa punya perasaan, keinginan, untuk merasakan nikmat Al Quran. Karena hanya dengan adanya keinginan ini, maka akan ada kompetisi, artinya kita akan merasa termotivasi ketika melihat orang lain lebih rajin dari diri kita.

Misalnya, ketika Ramadhan sudah tanggal 5, “Kamu sudah berapa juz?” Ketika melihat saudaranya sudah 15 juz, saya koq baru 5 juz. Maka dia termotivasi untuk lebih banyak lagi membaca Al Quran. Itu namanya at takrir, adanya perasaan penghargaan.

Bukan sebaliknya, dia malah mencari pembenaran terhadap dirinya, ”Kamu mah enak, ga punya bayi, saya sih punya.” Bayi jadi disalah-salahkan. Kalaupun tidak bisa sama, minimal berusaha miriplah, misal 7-8 juz. Saat tanggal 10 Ramadhan, kamu koq sudah khatam, saya baru 15 juz, ”Masak kalah sama saudara saya,” maka meningkatlah motivasinya untuk memperbanyak membaca Al Quran.

Jadi dengan sikap seperti itu, akan terasa bahwa pergaulan kita sebagaimana hadits yang diungkapkan Rasulullah, bahwa keberadaan orang beriman itu adalah bagaikan cermin bagi saudaranya, “Saya kalah jauh bacaan Quran dengan saudara saya, berarti saya kurang mujahadah.”

Di balik mungkin kita dalam kondisi belum mampu, tapi kalau motivasinya bertambah, belum mampunya kita, pasti akan meningkat. Ibarat tadi dapatnya 5 juz, termotivasi jadi 7 juz. Peningkatan ini sangat mungkin terjadi kalau memiliki motivasi yang kuat.

Itulah tiga prinsip dalam berinteraksi dengan Al Quran agar terjadi interaksi yang maksimal selama bulan Ramadhan sesuai dengan taujih Robbani dalam Al Baqarah ayat 185 di atas. Sehingga tiap tahun tidak hanya terjadi interaksi yang rutin, dari dulu sampai sekarang, setiap kali ditanya tentang kegiatannya di bulan Ramadhan, “Biasa, baca Al Quran.”

Nah, sekarang coba ditingkatkan, baca al Quran yang seperti apa? Kita ikuti petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW, agar kemiripan interaksi kita seperti petunjuk Rasulullah, supaya lebih memperdekat dengan janji-janji Allah yang lain, ada janji syafaat, janji pembelaan, janji masuk surga sampai tingkat tertinggi dan seterusnya akan bisa kita raih, insya Allah. (dian)

Disarikan dari Kajian Tafsir Quran Selasa Pagi yang disampaikan ust Abdul Azis Abdur Rauf, Lc di Masjid Al Hikmah, 12 Agustus 2008/11 Sya’ban 1429H.

[diambil dari sini]

Mari bersama jadikan Ramadhan ini yang terbaik dalam hidup kita, Semoga Allah SWT Ridha. amin