Ternyata Mundur Itu Lebih Baik daripada Maju?
Sahabat, pernyataan di atas aneh ya. Bagaimana mungkin mundur lebih baik daripada maju?
Tapi ini nyata dan aseli benar. Pengalaman pribadi.
Begini, subuh tadi, seperti biasa saya berangkat subuhan pakai motor ke surau dekat rumah [harusnya jalan tapi karena telat jadi naik motor supaya tidak ketinggalan jamaahnya].
Seperti biasa juga [he he berarti sering telat ya berangkatnya] motor saya parkir di jalan samping surau. Jalan itu hanya selebar 2 meteran. Setiap pulang saya selalu menjalankan motor dengan arah maju, dan selalu harus mundur lagi sedikit baru maju lagi, karena jalannnya sempit.
Nah, tidak seperti biasanya, subuh ini, alih2 maju, saya mundurkan dulu motor saya sambil membelokkan setir ke kiri, lalu dengan nyamanannya saya langsung maju dan terus pulang.
Sambil tertawa dalam hati lalu terpikir judul postingan ini.
Apa hikmahnya? Dalam hidup, seringkali, kalau tidak selalu, kita ingin majuuuuuu terus, apa pun yang menghalang kita sikat, karena kita anggap penghalang. Pokoknya harus maju dan maju terus.
Harus selalu “maju” dalam arti harus selalu menjadi lebih baik memang benar. Tapi caranya ternyata tidak harus dengan terus melaju maju. Kadang2 berhenti atau bahkan mundur dulu diperlukan sebagai strategi untuk mencapai keberhasilan. Dan bahkan cara itu lebih baik.

tafakkur
Dalam kehidupan sekarang yang penuh kompetisi, yang seringkali bersifat barbarian [yang terkuat harus yang dimenangkan], kadang kita perlu berhenti [pause] dan merenung, mengevaluasi, menghisab diri, bahkan jika perlu menarik diri dan mundur sejenak dari hiruk pikuk dunia [retreat] waktu agar bisa memembenahi diri dan kemudian berbekal hasil renungan dan evaluasi diri, maju kembali dengan langkah2 dan strategi yang lebih baik.
Menurut saya, Allah telah mengajarkan itu kepada kita dengan jelas dalam perintah shalat dan juga puasa. Dalam kehidupan nyata, ketika muadzin mengumandanagkan adzan yang memanggil kita [yang sejatinya dia jadi perantara Allah untuk memanggil kita] untuk shalat dzuhur, sadarkah kita bahwa Allah ingin kita jeda sejenak, mengistirahatkan pikiran, jiwa dan raga untuk memulihkan kondisi agar kemudian bisa berkarya lagi dengan baik.
Demikian pula dengan shalat2 malam kita dan puasa kita.
Sahabat, sudahkah kita mencoba untuk berhenti sejenak, bahkan mundur untuk kemudian maju dengan lebih baik lagi.
Maukah kita dengan ikhlas memenuhi panggilanNya untuk berhenti sejenak [shalat dan puasa] agar kita dijadikanNya sebaik-baik umat di muka bumi?
Sahabat, semoga sepercik pikiran yang Allah percikkan ini ketika pulang subuh saya tadi bermanfaat untuk kita semua dan dapat menjadi bahan renungan kita dalam ikhtiar kita untuk dapat menjadi lebih baik dalam setiap bidang kehidupan kita. Dunya wal akhirat. Amin
Subhaananakallaahumma wa bi hamdik.
Asy hadu allaa ilaaha illa anta.
Astaghfiruka wa atuubu ilaiik.


Yang biasanya menghidupkan malam, hmm mulai timbul rasa berat dan malas. Namun saya bersyukur, dapat mengevaluasi performa puasa saya pada hari ini. Artinya dengan semangat untuk terus menjadi lebih baik, dengan tahu kekurangan itu sekarang, saya paling tidak insya Allah masih punya 22 hari lagi untuk dapat menjadi lebih baik.! Bayangkan kalo saya baru nyadar ketika Ramadhan sudah hari yang ke 25! Kebayang kan?
Sebagai penutup, hendaklah dikuatkan azzam, bahwa selepas Ramadhan, kita akan tetap istiqamah menjaga apa yang baik yang telah kita raih bahkan terus meningkatkannya.





















