Semua bergantung pada bagaimana cara pandangmu

Selalu ada cara untuk bersyukur, dan itu sepenuhnya bergantung pada pilhanmu, dengan cara apa engkau memandang sesuatu.

Ini kisah seorang penulis buku terkenal duduk di ruang kerjanya… dia mengambil penanya… dan mulai menulis :

“Tahun lalu… saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang….

Di tahun yang sama, saya berusia 60 tahun dan memasuki usia pensiun…, keluar dari pekerjaan di perusahaan yang begitu saya senangi… saya harus tinggalkan pekerjaan yang sudah saya tekuni selama 35 tahun…

Di tahun itu juga saya ditinggalkan ayah yang tercinta…

Kemudian… masih di tahun yang sama, anak saya gagal di ujian akhir kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah puncak kesialan di tahun lalu…”

Di bagian akhir dia menulis:

Sungguh… tahun yang sangat buruk!

Istri sang penulis masuk ke ruangan dan mendapati suaminya yang sedang sedih dan termenung… Dari belakang, sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan ia mundur dan keluar dari ruangan…

15 menit kemudian dia masuk lagi dan meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sebagai berikut :

“Tahun lalu… akhirnya suami saya berhasil menyingkirkan kantong empedunya yang selama bertahun-tahun membuat perutnya sakit…

Di tahun itu juga… saya bersyukur, suami bisa pensiun dengan kondisi sehat dan bahagia. Saya bersyukur kepada TUHAN, dia sudah diberikan kesempatan berkarya dan berpenghasilan selama 35 tahun untuk menghidupi keluarga kami

Sekarang, suami saya bisa menggunakan waktunya lebih banyak untuk menulis, yang merupakan hobinya sejak dulu…

Pada tahun yang sama…, mertua saya yang berusia 95 tahun… tanpa sakit apa-apa telah kembali kepada Tuhan dengan damai dan bahagia….

Dan masih di tahun yang sama pula… Tuhan telah melindungi anak saya dari kecelakaan yang hebat… Mobil kami memang rusak berat akibat kecelakaan tersebut…, tetapi anak saya selamat tanpa cacat sedikit pun…”

Pada kalimat terakhir istrinya menulis :

“Tahun lalu…. adalah tahun yang penuh berkah yang luar biasa dari Tuhan…. dan kami lalui dengan penuh rasa takjub dan syukur…”

Sang penulis tersenyum haru…, dan mengalir air mata hangat di pipinya… Ia berterimakasih atas sudut pandang berbeda untuk setiap peristiwa yang telah dilaluinya tahun lalu… Perspektif yang berbeda telah membuatnya bahagia…

Sahabat, di dalam hidup ini kita harus mengerti bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur. Namun rasa syukurlah yang akan membuat kita bahagia. Mari kita berlatih melihat suatu peristiwa dari sudut pandang positif dan jauhkan rasa iri di dalam hati.

Kita dapat mengeluh karena semak mawar memiliki duri, atau bersukacita karena semak duri memiliki mawar..
We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorn bushes have roses.
(Abraham Lincoln)


Selamat menjalani hari ini dengan penuh rasa syukur, karena Allah SWT masih beri kita kesempatan untuk hidup, masih ada kesempatan untuk menambah taat kepada Allah SWT dan menebar manfaat dan kebaikan kepada sesama mahluk Allah, sebagai bekal kembali kepadaNya

Wassalamualaikum

Photo by Snapwire on Pexels.com

Teguhkan Yakinmu dalam Berdoa

Assalaamu ‘alaikum

“Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu“

Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.

Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:

Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.

Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.

Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.

Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, “Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta’ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya.” Tetapijika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya.

“Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.”

Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. “

Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, “menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.”

Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: “Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.” (HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).

Dalam hadits lain disebutkan, “Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, “Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. “ (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam menafsiri suatu ayat “Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi” maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: “Maka hendaknya kalian berdua istiqamah”, maksudnya adalah “tidak tergesa-gesa”. Sedangkan ayat, “Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui”, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:

Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.

Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. dan hal demikian suatu tindakan yang salah.

Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij’itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:

“Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.”

Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya.

Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap “merasa hina” di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: “Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina “.

Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:

“Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu”.

Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.

Dicopas secara utuh dari Blog ini

Amnesia Spritual


*AMNESIA SPIRITUAL*
_Oleh Abu Sangkan_

Manusia disebutkan dalam hadits sebagai _*al-insaan mahalul khata’ wan nisyan*_, yakni manusia adalah makhluk pelupa. Atau bisa dikatakan manusia memiliki kesadaran terbatas. Maka dari itu, Allah menurunkan _*Adz-Dzikra*_, nama lain dari Al-Qur’an yang berarti pengingat atau peringatan bagi kaum yang lupa (tidak sadar). Dalam uraian ini saya ingin mengingatkan kembali dari ketidaksadaran ini menjadi sadar kembali tentang siapa diri kita sebenarnya. Mengapa hal ini penting dibicarakan? Karena memang kita sudah lupa dari mana kita berasal, kita sudah lupa pulang ke asal kita. Setelah kita hidup selama puluhan tahun di muka Bumi ini, kita bingung bagaimana caranya kembali pulang ke hadirat Allah Swt.

Kita sudah sering mendengar ada kehidupan sesudah mati, yaitu kehidupan di akhirat. Kita sering merenungkan seperti apakah keadaan di akhirat kelak. Banyak informasi melalui kitab-kitab suci tentang keadaan di surga maupun di neraka dengan gambaran-gambaran yang indah atau menakutkan. Gambaran-gambaran tadi, pada prinsipnya, otak kita tidak pernah menjangkau kenyataan yang sebenarnya. Karena memang keadaan di sana bukan wilayah indrawi kita. Namun untuk memberikan gambaran-gambaran bagi manusia, Allah memberikan pendekatan persepsi yang bisa dipikirkan oleh gambaran otak manusia yang terbatas, adanya sungai-sungai mengalir, buah-buahan yang segar. Padahal Allah akan menjelaskan sesuatu yang belum pernah ada data yang diterima oleh akal dan otak manusia. Karena itu, sering Al-Qur’an mengungkapkan kenikmatan akhirat menggunakan bahasa perumpamaan. Karena tidak mungkin menjelaskan sesuatu yang tidak mungkin ada perbandingannya.

Masih ingatkah kita keadaan dan kehidupan sebelum lahir? Jarak yang paling dekat dengan kehidupan kita sekarang adalah kehidupan di alam rahim. Kita berada di dalam perut ibu selama sembilan bulan. Kalau seandainya kita tidak mendapatkan informasi akan kelahiran serta pengetahuan kehidupan di dalam rahim ibu, mungkinkah Anda percaya di sana kita pernah tinggal selama sembilah bulan? Di sana kita bisa hidup, makan dan minum. Cara makan dan minum didalam rahim berbeda dengan cara kita sekarang. Disana kita bisa makan dan minum tanpa harus bekerja. Makanan selalu tersedia siang dan malam tanpa pernah habis. Makan pun tidak perlu dikunyah, tidak pakai mulut, tetapi melalui pusar. Mungkin kedengarannya aneh, makan kok melalui pusar.

Image may contain: text

Apa bayangan Anda jika tidak ada pengetahuan mengenai hal ini? Padahal kenyataan itu pernah kita alami. Kita bisa mengerti dan memahami akan kehidupan sebelum ini karena teknologi sudah banyak memberikan informasi kehidupan di alam rahim. Jika tidak, pastilah tidak pernah terbayangkan ada kehidupan sebelum ini. Sebagaimana halnya sekarang, kita membayangkan akan adanya kehidupan setelah kematian, atau kita belum bisa membayangkan, bahwa kita pernah bersama para ruh di hadapan Allah berucap dan bersaksi adanya Allah secara langsung. Dan kita pernah mengemban tugas dari Tuhan yang Maha Mulia dan kita menyanggupinya. Pada saat pertemuan dengan Allah di alam azaly pastilah saya menyadarinya dan mengalaminya langsung. Namun, sekarang sudah lupa seperti apa berjumpa dengan Tuhan Yang Maha Mulia, Yang Maha Misterius wujud-Nya dan Maha Sulit pikiran-pikiran-Nya.

Batasan ingatan kita akan peristiwa kesadaran hanya samar-samar ketika di usia dua tahun. Kita tidak ingat pernah dilahirkan oleh seorang ibu. Seandainya Anda tidak diberi informasi sampai sekarang oleh siapa Anda dilahirkan, kita tidak tahu siapa ibu kita yang sebenarnya. Kita tidak ingat pernah digendong kerabat dekat waktu itu. Padahal kita hidup dan aktif layaknya bayi pada umumnya. Sebelum dilahirkan kita juga tidak tahu mau ke mana kita pergi setelah sembilan bulan di dalam kandungan. Juga tidak terbayang akan kehidupan yang akan kita jalani nanti setelah dilahirkan. Seandainya mengerti, bahwa hidup di dunia sulit penuh perjuangan, makan harus mencari dan bekerja keras untuk mendapatkannya, mungkin kita akan takut dan ngeri hidup di dunia ini. Apalagi kalau dibandingkan dengan kehidupan di alam rahim yang serba enak tanpa harus melakukan pekerjaan apa-apa.

Sekarang, walaupun di dunia serba sulit dan penuh perjuangan, ternyata kita juga takut mati karena belum terbayang seperti apa hidup sesudah ini. Padahal kita pasti mati. Kita lupa atas kehidupan kita yang lalu, dan kita juga tidak tahu akan kehidupan setelah ini. Lalu mengapa pula kita berada di sini sekarang dengan kehidupan yang serba sulit dan penuh dengan persaingan ketat? Apa yang dicari sebenarnya dalam hidup dengan rentang waktu yang serba cepat dan pendek? Kejar-kejaran seolah ingin meraih sesuatu yang tidak ada batasnya. Mengumpulkan harta benda untuk persiapan hidup seribu tahun yang akan datang.

Kalau kita tidak tahu apa maksud dan tujuan hidup di dunia, sebenarnya kita akan menjadi bulan-bulanan kehidupan sampai akhirnya kita kelelahan dan kebingungan mau diapakan harta sebanyak ini. Kesempatan untuk menikmati hasil kerja keras itu juga tidak akan mampu kita lakukan dengan baik. Tubuh kita sudah semakin lemah dimakan usia. Kenikmatan tidak akan kita peroleh karena seluruh kondisi tubuh kita sudah semakin tidak mampu lagi merasakan kenikmatan makanan, minum, tidur, dan mengendarai mobil serta bertamasya ke seluruh dunia. Akankah kita masih bingung? Padahal tubuh yang semakin renta dan tidak kuasa apa-apa telah menunjukkan tanda-tanda, bahwa kita akan segera meneruskan perjalanan menuju alam yang baru, yaitu mati!

Kita sudah lupa yang berarti kita tidak sadar. Secara kejiwaan hal ini berarti kita tidak berada pada apa yang kita pikirkan dan menyadarinya. Kesadaran adalah tingkat _”tahu”_ seseorang akan keberadaannya, serta menyadari siapa dirinya dan mau ke mana ia harus berjalan atau bertujuan. Tahu dari mana kita berasal, sehingga kita tiba-tiba berada di sini. Kita _”ada”_ bukan muncul begitu saja atas kesadaran sendiri dan kehendak sendiri.

Batasan kesadaran dan ingatan kita ke belakang _(past life)_ hanya mampu untuk mengingat sampai pada usia 5 tahun. Itupun masih samar-samar. Kita baru sadar dan menyadari setelah kita mendapatkan informasi dari orang di sekitar kita dan pengetahuan yang kita baca atau foto-foto masa kecil kita. Begitu pula dengan kesadaran ke depan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap kehidupan kita nanti. Kesadaran ke depan hanya bisa kita kira-kira dan prediksi dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Kesadaran yang kita rasakan sekarang adalah bentukan dari informasi yang diterima oleh otak kita. Kenikmatan yang kita rasakan sekarang masih berupa kenikmatan kimiawi dan ketidakstabilan sistem konduksi pada saraf kita. Kita semakin tahu kenyataan, bahwa kesadaran yang kita rasakan sekarang adalah kesadaran yang tersesat. Bahwa kita _”sadar”_, sesungguhnya kita tidak (belum) sadar. Kita sudah mulai bertanya apa sesungguhnya tubuh kita dengan segala aktivitas dan sifatnya. Bentuk tubuh yang dibentuk pikiran dan persepsi kita yang salah menyebabkan kita lupa siapa sebenarnya diri kita. Kita sudah terjebak oleh persepsi kesadaran yang amat terbatas. Bahwa kesadaran yang terbangun saat ini baru taraf kesadaran terendah dan perlu dibuka untuk mencapai kesadaran lebih tinggi.

Pada awal pembahasan kita di atas, kita telah telusuri serba-serbi kehidupan manusia, tentang tujuan hidup dan kenikmatan yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Kehidupan yang terobsesi kepada dunia materi, pada akhirnya akan tidak sampai kepada tujuan sebenarnya. Hanya kegagalanlah yang akan diraihnya. bahkan menjadi tersiksa akibat mencapai titik jenuh yang terus-menerus mendera kehidupannya.

Langkah-langkah yang berikut ini adalah untuk mengetahui kembali siapa diri kita yang sebenarnya dan mengapa kita hidup di dunia yang hanya sementara ini. Dan kalau dikalkulasi secara matematis ternyata banyak waktu yang tersia-siakan dalam hidup kita dengan banyaknya penderitaan dan perjuangan hidup yang tidak mudah. Kita hanya bisa menikmati hidup dari hasil kerja kita untuk waktu sesaat saja. Boleh dibilang lebih banyak menderitanya ketimbang enaknya. Juga kalau kita mengandalkan manfaat dari kehidupan kita, sesungguhnya kita hanyalah memberikan sedikit manfaat untuk lingkungan. Tidak sebanding menerima manfaat yang lingkungan berikan kepada kita, malah kitalah yang terkadang banyak merugikan orang-orang sekitar kita.

Berapa banyakkah waktu yang kita manfaatkan sepanjang kita hidup? Sejak kita lahir, kita hanyalah makhluk lemah yang tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada lingkungan. Tenaga yang kita miliki, baik fisik maupun pikiran, tidak banyak memberikan arti apa-apa. Banyak yang ingin kita raih dari hasil kerja keras kita. Namun ternyata banyak yang tidak kita dapatkan, kecuali hanya kekecewaan.

Bagi kita yang memiliki kesadaran, bahwa hidup di dunia ini harus bekerja keras untuk meraih sukses agar di masa tua bisa menikmati hasilnya. Sebenarnya itu adalah cita-cita yang sia-sia, terutama kalau itu hanya terbatas mengumpulkan harta untuk dinikmati hasilnya di masa tua. Anda bisa bayangkan dalam kurun waktu yang tidak lama. Anggaplah hidup kita bisa mencapai usia 70 tahun. Di dalam waktu 70 tahun yang akan kita lalui, proses kehidupan bisa kita bagi menjadi beberapa masa. Awal masa prakanak-kanak, akhir masa prakanak-kanak, awal kanak-kanak, pertengahan masa kanak-kanak, adolsen, awal masa dewasa, pertengahan masa dewasa, akhir masa dewasa.

Kalau kita menyusun pembagian waktunya, di masa balita sekitar 5 tahun pertama, kita menjadi manusia yang paling banyak bergantung pada orangtua. Kemudian masa kanak-kanak membutuhkan waktu sekitar 7 tahun berikutnya. Pada masa ini ketergantungan kita kepada orangtua sudah sedikit berkurang disebabkan kita sudah mulai bisa mengurus diri sendiri seperti
Makan, minum, tidur, memakai baju dan celana, serta sudah memiliki komunitas bermain sendiri. Masa remaja membutuhkan waktu sampai sekitar 9 tahun. Pada masa ini, kehidupan remaja sudah memproses kemandirian hidup, walaupun masih sepenuhnya ditopang oleh orangtuanya. Masa dewasa, masa memulai hidup secara mandiri, berjuang dan memiliki otoritas secara penuh atas hak-hak hidupnya. Segala upaya untuk menjadi orang sukses dilakukan demi untuk masa tuanya. Perjuangan ini membutuhkan waktu setidaknya 20 tahun untuk meraih kesuksesan hidup secara materi.

Barangkali kita bisa menghitung, pada usia diatas 50 tahun kita baru bisa menikmati hasilnya. Kita sudah mulai santai, karena kerja keras tidak perlu lagi kita dilakukan. Mungkin tinggal menikmati hasil dari investasi yang kita miliki. Kalau memang demikian, waktu kita tinggal 20 tahun lagi kalau dihitung dapat hidup sampai usia 70 tahun. Pada masa ini, tubuh kita semakin menyusut, energi semakin berkurang. Untuk menikmati hasil kerja selama ini kita hanya dapat sekadar mencicipi, karena sudah banyak dilarang oleh dokter. Semakin mendekati usia 70 tahun, semakin tidak bisa menikmati apa-apa, karena seluruh reseptor rasa tidak mampu mengirimkan impuls ke otak dengan baik. Akibatnya, kenikmatan menjadi hilang sama sekali.

Apa yang kita simpulkan dalam keadaan seperti ini? Kita telah mengejar _fatamorgana_. Kita telah tertipu oleh kehidupan ini, jika hanya sekedar mengejar materi. Kita masih belum percaya dan baru sadar di saat-saat menjelang ajal, ketika peralatan pemacu jantung, alat bantu oksigen dan peralatan kedokteran lainnya terpasang ditubuh. Tanda bahwa sebentar lagi jiwa kita harus pergi meninggalkan tubuh yang renta dan seluruh harta benda yang kita miliki dengan rela atau terpaksa.

Renungan ini bukan untuk mematahkan semangat hidup Anda, tetapi kita mencoba menggali sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar mencari harta benda untuk dinikmati. Ada sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi yang bisa kita nikmati ketika badan sudah tidak lagi mampu lagi merasakan kenikmatan materi, yaitu kenikmatan spiritual yang hanya bisa ditangkap oleh ruhani, bukan oleh reseptor telinga, hidung, lidah dan mata. Karena ketika itu, indrawi sudah tidak mampu lagi menerima rangsangan-rangsangan dari luar.

Ada rahasia yang lebih besar di luar sana. Sebagaimana kita tahu ada planet lain selain planet yang kita tempati. Atau ada waktu yang berbeda ketika kita merasa disini malam hari, di belahan bumi lainnya sedang siang terang benderang. Dan banyak rahasia lain lagi yang perlu kita ketahui. Agar kita tidak _jumud_ dan sempit memahami kehidupan ini.

disalin secara penuh dari FP Ustadz Abu Sangkan

Quranic Immunity – Kekebalan Al Quran

Quaranic Immunity

Share dari Ustadz Nasrullah
———————
QUR’ANIC IMMUNITY Sebagai Saran Solusi Covid 19

Alhamdulillah lebih dari 95% PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang penulis tangani sampai saat ini dinyatakan sembuh dan berhasil pulang. Sebutlah Prof DR Dr Idrus Paturusi. Beliau Guru Besar UNHAS dan Mantan Rektor yang sembuh pada tanggal 3 April 2020.

Tokoh Sepakbola Nasional, Andi Darussalam Tabusala juga baru saja dinyatakan sembuh dari covid, setelah diisolasi selama 16 hari. Haru biru menghiasi kepulangan beliau, karena secara kondisi kesehatan, mantan manajer Timnas Indonesia ini, sangat rentan.

Beliau sudah berumur 70 tahun, riwayat darah tinggi, diabetes 30 tahun, 15 tahun suntik insulin, operasi ginjal karena CA, 5 tahun cuci darah… riwayat yang dahsyat. Namun, Allah berkehendak lain, komentator sepakbola yang rutin menghiasi layar kaca di era 1990-an ini, selamat, untuk menjadi bekal keyakinan bagi kita yang masih hidup.

Kedua tokoh besar tersebut mewakili puluhan PDP yang sembuh menggunakan metode penyembuhan Al-Qur’an menghadapi covid-19 ini. Saya membimbing mereka konsultasi jarak jauh untuk melakukan terapi menggunakan Al-Qur’an. Ada yang dibantu keluarganya, ada juga PDP yang bersangkutan yang berkomunikasi di ruang isolasi. Dan hampir seluruhnya alhamdulillah, atas izin Allah, berhasil sembuh.

Ada satu PDP yang syahid, insya Allah. Beliau adalah Abdul Qadir Zaelani, berumur 41 tahun. Syahid di tanggal 5 April 2020. Penulis merasakan kerisauan keluarganya krn kuburnya pun dirahasiakan. Namun sangat terasa, keluarganya bangga dan bersyukur, predikat syahid disandang Abdul Qadir.

Dari hampir 30 yang penulis bimbing, 1 PDP syahid. Angka yang In Syaa Allah cukup menggembirakan.

Dari semua keberhasilan itu, maka penulis mengajukan Qur’anic Immunity untuk dijadikan solusi bagi wabah covid-19. Tentu saja ide ini ditujukan kepada Muslim yang mengimani Al-Qur’an sebagai Syifa’ (obat/penyembuh/penawar). Dengan tetap menghormati pemeluk agama lain.
PSBB VERSUS HERD IMMUNITY

Per tulisan ini dibuat (21/4), penulis sudah 5 minggu mengurung diri di rumah mengikuti anjuran pemerintah. Secara pribadi, saya menguatkan diri, untuk siap melakukan pengurungan diri ini selama mungkin.

Dan penulis yakin, kalangan menengah yang terbiasa online dan memilki tabungan juga siap tetap berada di rumah lebih lama lagi. Pertanyaannya, apakah semua masyarakat siap? Bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Yang sebelum PSBB saja sudah menggantungkan kehidupannya pada penghasilan harian.

Penulis tertegun dengan bahasan selebriti podcast yang sedang naik daun, Deddy Corbuzier. Di Channel Youtube-nya, video yang diunggah 20 April 2020, nampak kegalauan yang teramat sangat antara beliau dan tamunya.

Dalam wawancara itu, saya menangkap kegalauannya lebih ke potensi kerusuhan, yang bisa meledak kapan saja. Dan saya yakin, itu juga yang berada di fikiran banyak orang. Di media mainstream pun sudah mulai ada berita-berita keharuan, keluarga yang tidak bisa makan berhari-hari.

Kita pun memahami pemerintah, yang memang dengan pilihan terbatas, akhirnya harus menetapkan PSBB sebagai solusi. Pembatasan Sosial Berskala Besar ini dipilih, untuk tidak membebani keuangan pemerintah yang memang tidak-lega keuangannya.

Pe-ernya adalah, harus disiapkan dampak pada masyarakat lapar yang tidak bisa dikendalikan fikiran “gelap”nya. Yang saat “hanya di rumah saja” mendengarkan tangisan demi tangisan anak yang kelaparan. Dulu jumlahnya masih bisa terukur, namun di masa covid19 ini jumlahnya meledak, dan dalam beberapa bulan ke depan, makin tidak bisa diprediksi.

Sebelum covid19, kalangan menengah juga bisa menjadi mitra pemerintah dalam berdonasi. Tapi di masa covid19, kalangan menengahpun terdampak. PHK besar2an sudah di depan mata.

Pilihan PSBB nampaknya bukanlah solusi akhir. Karena sangat tidak ideal, dan rentan menimbulkan dampak sosial. Saya yakin pemerintah saat ini sedang menyiapkan strategi lain.

Dalam fikiran penulis, pilihan selain PSBB adalah Herd Immunity. Inggris, Belanda dan Swedia sempat melirik metode ini. Namun herd immunity bernuansa seperti kalah perang. Sebagian mental masyarakat juga bisa “down” jika mendengar angka pasien yang semakin meningkat. Dan akhirnya, ketiga negara itu kembali lagi ke strategi Lockdown.

Singapura yang awalnya dibanggakan dengan strategi “total football”nya menghadapi covid dan berhasil menekan jumlah penderita, ternyata sekarang “jebol”, terjadi ledakan penderita dan kini, per tulisan ini dibuat, ada 6558 kasus, menyusul Indonesia dan Filipina. Padahal negara kecil.

Kuwait yang menerapkan Lockdown total dan jam malam, malah angka penderitanya meningkat dari 37 menjadi 1995 kasus. Lockdown ketat, malah penderita meningkat. Kok bisa?

Dan yang kini menjadi berita hangat, Amerika diambang tahapan kerusuhan sosial. Twit Donald Trump untuk memprovokasi pendukungnya untuk ”liberate” atau melawan lockdown malah berbuah demonstrasi besar2an di banyak negara bagian.

Lalu, Indonesia mau apa?
DANGER VERSUS FEAR

Dalam keadaan ini, rasanya Indonesia bisa menyalip di tikungan, mengutip ungkapan2 yang sering dikemukakan Mardigu Wowik. Ya, saya sependapat. Penulis yakin, Indonesia bisa menyalip di tikungan. Saat semua negara kebingungan, Indonesia bisa pulih lebih awal. Dan membangun ekonomi lebih cepat dari yang lain.

Semua itu bisa dilakukan, asalkan semua pihak mengetahui bedanya “Danger” dengan “Fear”. Benar, covid19 adalah Danger, tapi kita tidak boleh berada dalam state Fear terus menerus. Harus ada titik tenangnya. Makin cepat titik tenang ini tercapai, makin cepat kegiatan masyarakat bisa pulih kembali.

Maksudnya begini. Covid19 mungkin sampai dua tahun ke depan akan tetap menjadi “bahaya” yang mengintai. Dan harus difahami itu sebagai hal yang lumrah. Seperti bahaya perampok, itu semua sudah faham, sampai kapanpun akan ada perampok. Tapi kita tidak lagi berada dalam ketakutan kan? Karena yakin ada polisi yang bekerja profesional. Dan dengan pembagian tugas dengan Polisi, kita bisa tidur nyenyak.

“Danger” covid19 memang tetap ada, tapi sepatutnya kita tidak mengizinkan “Fear” mendominasi hidup kita.
MENCAPAI TITIK TENANG

Maka, yang diperlukan menghadapi covid19 ini bukan vaksin. Karena bagi penulis, menunggu vaksin adalah sebentuk kekalahan. Selain waktu yang tidak bisa diprediksi, vaksin juga harus mengeluarkan biaya mahal yang harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, dampak ekonomi juga sudah habis2an, selama masa menunggu.

Jika vaksin tidak bisa ditunggu, lalu apa?

Hemat penulis, semua pihak terutama pemimpin sosial harus berfikir tentang “titik tenang” ini. Dibanding dengan kampanye “stay at home”, harus ada kampanye lain yang lebih bernuansa solusi. Perlu dicatat, penulis bukan berarti menganggap kampanye stay at home tidak bermanfaat. Namun lebih ke menatap solusi lain.

Misalnya begini. Titik tenang menghadapi perampok yang merajalela, adalah kampanye besar2an bahwa Polisi bekerja dengan profesional. Diblow up besar2an di media bahwa gembong2 besar perampok sudah ditangkap. Itu akan membuat tenang masyarakat dibandingkan dengan kampanye “berhati2-lah dengan bahaya perampok, dan selalu duduklah di rumah”

Begitu juga dengan covid19.

Sudah jelas bahwa PSBB dan stay at home mengandung resiko yang belum bisa diukur sekarang. Herd Immunity juga penulis fikir bukan pilihan bijak.

Lalu apa? Penulis menawarkan QUR’ANIC IMMUNITY

Sekali lagi, ini tentu saja ditujukan bagi komunitas Muslim. Untuk agama lain, penulis yakin bisa juga diarahkan kembali ke agama masing2.
QUR’ANIC IMMUNITY

Bruce H Lipton, seorang biologist terkenal dari Amerika lantang di channel Youtube-nya menyampaikan bahwa covid19 bisa ditangani dengan mudah.

Professor yang menjadi rujukan dalam menjembatani antara science dan spiritual ini awalnya mengatakan bahwa gen menentukan penyakit. Namun dia resign dari professornya karena merasa bersalah dengan pengajarannya itu. Dan kini, di usianya yang sudah 75 tahun, kerap memberi pelajaran tentang epigenetics. Sebuah teori yang meyakini bahwa ekspresi gen dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk fikiran, perasaan, motivasi dan belief.

Tentang covid19, inilah ungkapan Prof Bruce H Lipton: “Benar, covid19 adalah penyakit yang berbahaya, karena dia sejenis flu berat yang mematikan. Kenapa banyak yang mati, karena covid19 adalah flu baru, yang sel kita belum memiliki memori untuk mengeluarkan anti body nya. Tapi percayalah, bahwa yang terkena dampak paling mematikan adalah mereka yang tidak punya imunitas. Dengan sikap yang takut akan ancaman, akal akan mengeluarkan hormon stress dan mematikan imunitas tubuh (Shutdown the Immune System), yang pada akhirnya tidak bisa melawan virus covid19”

Silahkan menuju ke channel Youtubenya untuk dapatkan informasi dan ilmu2 penting di sana.

Pernyataan di atas sangat penting dalam menghadapi covid19 ini. Selain karena sesuai dengan cara kerja imunitas tubuh, pernyataan itu juga diungkapkan oleh biologist terkenal yang semoga bisa didengarkan oleh seluruh tenaga kesehatan di seluruh dunia.

Hal ini juga diperkuat dengan keterangan Prof Dr Muhayya, seorang professor terkenal dari Malaysia.

Pada wawancara saya dengan beliau, Prof DR Dr Muhayya mengatakan “Saya pribadi sebagai dokter perubatan memerlukan banyak perlindungan, dan tidak ada yang lebih baik daripada Al-Qur’an. Dengan getaran Al-Qur’an yang sampai ke sel, maka sel itu akan melawan virus dengan sangat kuat”

Itulah yang penulis praktekkan pada puluhan PDP, dengan positif thinking ditambah dosis Al-Qur’an, makin kuat beliefnya, terbentuklah imunitas di level sel. Qur’anic Immunity terjadi. Sebutlah bu Dian yang kisahnya sangat mengharukan. Berawal dari kontak dengan mitra kerja dari luar negeri, berdua suami istri akhirnya harus mengalami positif covid19.

Saat diperiksa dan dinyatakan positif, keduanya harus mengalami perawatan di tenda darurat tentara di sebuah RS di tangerang. Tapi karena tenda yg dipasang di parkiran itu tidak memiliki jendela, bu Dian malah kambuh asmanya setelah 2 hari dirawat intensif. Saat mengadu pada petugas yang menjaganya, malah disuruh pulang.

Menyandang status PDP, bu Dian dan suaminya kebingungan. Dari jam 11 malam sampai 4 pagi hanya berada di mobil, tidak berani bertemu siapapun, takut malah menularkan penyakit ini. Sampai akhirnya berbekal info dari temannya, kedua pasutri ini menyetir dalam keadaan lemas ke RS Sulianti Saroso. Singkat cerita, dia menghubungi saya dan saya bimbing melakukan Qur’anic Immunity.

Setelah 14 hari dirawat, beliau selamat dan menceritakan kisah ajaibnya di Facebooknya, Dian Eva Agustina. Bersyukur Al-Qur’an meningkatkan imunitasnya dan sembuh atas izin-Nya.

Begitu juga dengan Prof DR Dr Idrus, istrinya intensif komunikasi dengan saya. Pak Andi Darussalam pun begitu. Dan puluhan PDP yang berhasil selamat, alhamdulillah. Semua menggunakan metode yang sama.

Bahkan ada seorang WNI yang terjebak di New York, episentrum covid19 yang sudah mencapai 4000 orang tewas per hari. Bu Mahdalia Eva namanya, setelah 11 hari konsultasi, merasa bahagia dan menyatakan dirinya sudah jauh lebih baik. Beliau tidak bisa menyatakan sembuh, karena tidak bisa mengakses RS yang sudah penuh sesak dengan pasien. Beliau hanya bisa perawatan di rumah dengan Qur’anic Immunity ini. Ada satu WNI kawannnya yang sudah meninggal. Atas izin Allah, beliau selamat.

Tentu, ajal semuanya di tangan Tuhan. Tapi kita manusia diwajibkan berusaha dan tawakkal.

Penulis berfikir, jika seandainya kampanye Qur’anic Immunity ini dilakukan dengan massif di seluruh kaum Muslimin, semua melakukannya dengan serentak, dan akhirnya tercapai titik tenang, nampaknya akan ada cerita yang berbeda, dalam waktu dekat nanti. Kata kuncinya : massif dan serentak.
BERBAGI PERAN

Para ustadz nampaknya harus bergandengan tangan melakukan kampanye ini. Buat tenang masyarakat, bahwa obatnya sudah ada di tengah-tengah mereka, yaitu Al-Qur’an. Bawakan ayat2 Al-Qur’an tentang Syifa’ dan bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat.

Bisa juga melakukan kampanye2 seperti ini:

– Selain menggunakan masker, pastikan keluar rumah hanya setelah membaca Al-Qur’an, beberapa lembar
– Lakukan ruqyah Syar’iyyah, dzikirkan ayat2 pilihan/ma’tsur, lalu tiup di air (amalan meniup ke air ini dishahihkan oleh banyak ulama termasuk syaikh Abdullah bin Baaz, silahkan googling)
– Sebelum tidur, baca beberapa ayat Al-Qur’an, tiup ke telapak tangan, usapkan ke seluruh tubuh
– Lakukan Tadarrus bersama keluarga
– Perdengarkan murattal Al-Qur’an di rumah-rumah kaum Muslimin.
– Jika berkenan, bisa gunakan metode garpu tala yang penulis lakukan. Silahkan googling untuk metodenya.
– Dan semua cara untuk mendekat kepada Al-Qur’an

Lakukan semua amalan, untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi. Dengan menekankan keyakinan yang teguh bahwa Al-Qur’an adalah syifa’ (obat/penyembuh/penawar). Harus sepenuh keyakinan, saat mendekat ke Al-Qur’an, sudah kuat imunitas tubuhnya. Dan akhirnya bisa beraktivitas seperti biasa.

Kuncinya ada di Keyakinan. Makin yakin, makin kuat imunitasnya. Efek keyakinan inilah yang akan mengeluarkan hormon2 positif yang berguna bagi imunitas tubuh.

Lakukan kampanye ini, sampaikan dengan lantang bahwa banyak yang sembuh menggunakan Al-Qur’an. Ajak wawancara PDP yang sembuh, tanyakan apakah Al-Qur’an memiliki dampak, lalu ceritanya, viralkan!Semoga setelah itu media mainstream mau juga memberitakan.

Kepada tenaga kesehatan, saya juga menganjurkan agar terbuka dengan cara2 Ruqyah Syar’iyyah. Ketahuilah, bahwa obat fisik bukan satu2nya penyembuh. Diperlukan kekuatan Doa dan Tuhan yang lebih dari biasanya. Semoga bisa mendengarkan seruan Prof DR Dr Idrus Paturusi yang menyarankan Qur’anic Immunity ini dilakukan. Yakinkan, dengan metode ini, jumlah nakes yang gugur akan berkurang.

Kepada para pasien, tenanglah. Anda dipilih oleh Allah swt untuk menyandang kampanye ini. Pilihan Anda hanya ada 2. Selamat dan Sembuh sehingga jadi bukti mu’jizatnya Al-Qur’an. Atau kedua, jikapun meninggal mati syahid seperti janji Nabi Muhammad saw. Keduanya indah, jadi tenanglah.

Kepada para pemimpin negeri, pak polisi, tentara, politisi, semoga bisa juga melakukannya untuk perlindungan diri sendiri dan mengajak semua rakyat Muslim kembali yakin kepada Al-Qur’an. Anda akan dapatkan pahala besar dan ganjaran dari Allah, atas kampanye ini.
HASIL AKHIR

Jika kampanye ini benar-benar massif dilakukan, apalagi ada bulan Ramadhan, harapannya saat PSBB berakhir, semua pihak telah menggunakan Qur’anic Immunity sebagai pilihan.

Hal ini agar kita bisa kembali hidup normal, keluar dari rumah2 kita dengan percaya diri. Namun ada yang berbeda, Al-Qur’an telah menjadi gema yang menggaung di setiap rumah kaum Muslimin. Minimal 2 tahun saja ke depan, sampai covid19 ini berakhir. Tentu harapannya setelah itu berlanjut.

Semoga Allah selamatkan bangsa dan negara kita. Aman semua penduduknya. Dan kembali menjadi Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofur. Aamiin.

Wassalam,
Nasrullah
Penulis buku Magnet Rezeki dan mengajarkan Keajaiban Al-Qur’an untuk kehidupan.
CATATAN :
– Saran ini tidak menjadikan keputusan pemerintah tidak dilakukan. Penulis meyakini, mengikuti ulil amri juga bagian dari amal sholeh yang wajib dilakukan. Namun berharap para pemimpin bisa membaca dan mempertimbangkan tulisan ini.